Pattani Muasal Islam Nusantara

Babo Syihabuddin dan Habib Ali Yahya Penasaran pingin melihat Pattani, alam dan budayanya. Perjalanan dari Kuala Lumpur dengan bus mema...

Babo Syihabuddin dan Habib Ali Yahya
Penasaran pingin melihat Pattani, alam dan budayanya. Perjalanan dari Kuala Lumpur dengan bus memakan waktu sekitar 10 jam. Sampai di perbatasan Bukit Tanah Hitam, jam hampir menunjuk pukul 23.00. Artinya, sebentar lagi imigrasi di perbatasan Thailand akan ditutup persis pukul 23.00 Waktu Thailand atau pukul 24.00 waktu Malaysia.


Kami masuk wilayah yang semua tulisan dalam aksara Siam. Karena formulir kedatangan wisatawan tertulis dalam bahasa Thai, maka ramailah jasa penulisan isi formulir dengan tarip 2 RM atau jika menggunakan mata uang Thai dikenakan 10 Baht.
Pemeriksaan terbilang cukup cepat meskipun hanya ada dua loket yang melayani. Bahkan barang-barang juga tak diperiksa. Berbeda
Sebuah pesantren di Pathani
jika masuk Malaysia, yang semua barang harus masuk pemeriksaan ketat. Tak semua petugas imigasi Thailand menguasai bahasa Malaysia.
Sampai di perbatasan, sudah menunggu Baba Muhammad Adam. Baba (dibaca babo) adalah istilah panggilan untuk seorang ulama, kiai. Dia menjemput kami dari jarak perjalanan sekitar tiga jam dari Pattani. Ia menjemput khusus kedatangan Lembaga Kajian Khazanah Nusantara (LKKN) yang dipimpin Habib Ali bin Yahya.
Karena lapar, dan jam sudah menunjukkan hamper pukul 24.00, kami mampir di rumah makan muslim di Bukit Tanah Hitam. Tom Yam adalah makanan sasaran kami yang taripnya sekitar 100 Baht, atau sekitar Rp 35.000. Penjualnya muslim Thailand yang tak mengerti bahasa Melayu.
Malam itu kami langsung ke Had Yai, menginap di My House Hotel. Dari Had Yai menuju Pattani masih memakan waktu sekitar satu jam setengah lagi.
Bayangan mengerikan Pattani terhapus sudah. Jalanan bagus dna mulus dan kendaraan mewah bersliweran di jalan. Wanita berjilbab bebas melenggang. Mski ada jalanan yang dihambat aparat keamanan, namun tak sedikitpun muncul lagi rasa takut. “Pattani aman,” kata Habib Ali bin Yahya, ulama yang sering ke Patani.
Di Pattani kami langsung diterima Babo Abdullah, Pengasuh Pondok Pesantren Pengajaran Islam atau Al-Ma’had Ad-Dirasah Islamiyah Biratunahwu. Babo Abdullah adalah lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah. Salah satu anak Babo belajar di Universitas Muhammadiyah di Surabaya. Muridnya mencapai sekitar 1.000 orang dan banyak murid dari daerah Malaysia.
Pesantren ini memang terkenal mempelajari ilmu alat (Arab) semacam nahwu, sharaf, balaghah, dan lain sebagainya. Kata-kata itu tertulis dalam bahasa Arab dan Thai. Tak ada aksara latin. Ada diskusi dan perkenalan di sini sambil menikmati makan siang khas Pattani. Pesantren ini juga menjadi tempat pertukaran pelajar dan guru dengan Malaysia dan Indonesia.

Babo Muhammad Adam dan tamunya
Jejak Nusantara
Kemudian mengunjungi Masjid Muzhaffar Shah di Kresik (Krue Se). Mereka menganggap masjid ini merupakan masjid pertama yang berdiri di Asia Tenggara karena dibangun sekitar abad 15. Masjid yang dibiarkan dengan bentuknya yang sederhana itu berdiri. Masjid ini menjadi monumen perlawanan Pattani. Di depan mesjid itu ada gerobak pengangkut bom yang digunakan kesultanan Islam untuk menghadang Bangkok. Maulana Malik Ibrahim dulu pernah lama di sini baik sebagai pengajar dan juga santri.
Giliran Baba Muhammad Adam menjamu kami makan malam di Pesantren Nurul Ilmi. Pesantren ini diasuh Baba serta anaknya yang masih belajar di pesantren Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Yaman. Muridnya sekitar 60 orang. Bentuk pesantrennya sederhana dalam bentuk rumah panggung. Para santri mengenakan jubah putih dan surban melilit di kepala mereka.
Tentu, hal ini mengingatkan pada pesantren Pattani abad-abad lampau, serta para ulamanya. Ulama Thailand, Baba Ali Matih pernah menjelaskan bahwa Indonesia memiliki hubungan panjang dengan Thailand terkait dengan sejarah Islam di Nusantara. Bahkan, ia mengatakan bahwa salah satu Wali Songo Malulana Malik Ibrahim adalah orang Kresik, Pattani. “Sunan Gresik dari Surabaya gurunya di Kresik, Pattani (Thailand), namanya Syekh Said Al Basisa. Makamnya masih di sana,” kata Ali Matih saat ikut menghadiri International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU Mei 2016 lalu.
Ia menduga bahwa nama Gresik yang ada di Indonesia diambil dari Kresik yang bertautan dengan perjalanan hidup Malik Ibrahim demi mengenangkan tanah airnya. Ia jelaskan juga,  banyak orang Pattani yang pindah ke Indonesia setelah kaum muslim dikalahkan Kerajaan Siam. “Ke Demak, ke Kudus, ke Aceh, dan wilayah-wilayah lainnya,” terangnya.
“Pahlawan yang hebat asal Aceh Cut Nyak Dien ayahnya juga berasal dari Kresik Pattani,” lanjutnya. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand ini. Ia berharap hubungan yang sudah lama terjalin antara Indonesia dan Thailand tersebut bisa terus dijaga dan diperkuat ke depannya dengan melakukan beberapa kerja sama. “Diantaranya satu memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar Pattani atau Thailand Selatan untuk belajar di Indonesia,” katanya. Juga saling kunjung agar semakin mempererat hubungan antar kaum muslimin.
Santri Pathani
Ulama-ulama Pattani yang cukup terkenal dengan karya-karyanya antara lain Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syaikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani, Syaikh Muhammad bin Ismail al-Fathani, Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani dan beberapa nama lain. Bahkan dari Pattani kemudian menyebar ulama ke Nusantara.
Kedatangan orang Patani ke Betawi terbawa keinginan untuk membantu Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) yang putera Sultan ‘Umdatuddin bin Sayid Ali Nurul Alam, Sultan Pattani. Sunan Gunung Jati berhasil menguasai Sunda Kelapa itu pada 21 Jun 1527 M. Sejak itu, banyak Pattani yang hijrah ke Indonesia. Keturunan Syaikh Daud bin Abdullah al-Malikul Mubin yang bernama Wan Bagus membuka kampung yang diberi nama Kampung Melayu di Betawi pada tahun 1656 M. Generasi terakhir ulama Patani yang terkenal di Betawi ialah Kiai Ahmad al-Marzuqi al-Fathani al-Batawi yang wafat tahun 1934.
Perang penalukkan oleh Thailand, maka dalam tahun 1602-1632 terjadi banyak pelarian Pattani ke Nusantara. Datuk Maharajalela, yang nama sebenarnya ialah Faqih Ali bersama dua anak saudaranya, Paduka Raja dan Puteri Senapati hijrah ke  Gowa. Ia disambut Raja Gowa Mangarangi Daeng Marabbia.
Sekitar tahun 1760-an M, penduduk Kuala Mempawah, Tanjung Mempawah dan kampung-kampung sekitarnya dikejutkan kedatangan sekitar 40 perahu besar yang mengangkut antara lain dua orang ulama, Sheikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Sheikh Abdul Jalil al-Fathani.
Para Imam Masjid se Pathani menyiapkan Ramadhan
Sheikh Abdul Jalil al-Fathani meneruskan penyebaran Islam ke Sambas. Adapun Sheikh Ali tinggal di Kampung Tanjung, Mempawah yang kemudian diangkat menjadi mufti menggantikan Habib Husein Algadri tahun 1770. Merekalah yang kemudian banyak mendirikan pesantren dengan mengacu pada pesantren di Pattani.
Tradisi pesantren di Pattani sangat tua yang kemudian mewaris ke Nusantara. Pattani dan Kedah adalah serumpun yang dulu dalam tenda besar negara yang sama. Namun, kemudian sejarah mengubahnya. Dalam perjalanan sejarah kemudian, pesantren Pattani mengalami kemerosotan jumlah, meskipun para ulamanya tetap mengupayakan terjaganya mutu pendidikan itu.
Sejak tahun 1961 pesantren di Pattani sebagian besar melebur menjadi sekolah ketika Thailand dipimpin oleh PM. Sarith Thanarath. Pemerintah Thailand mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan semua institusi pendidikan melakukan registrasi secara resmi. Tak hanya registrasi pondok juga diharuskan menerapkan kurikulum pemerintah, mengganti nama menjadi sekolah rakyat dan mewajibkan penggunaan bahasa Siam. Pemerintah mengirim guru bahasa Siam. Bagi yang patuh mendapat kucuran dana. Tahun pun juga menggunakan tahun Thai.
Karena itu terjadi asimilasi besar-besaran pada bangsa dan Budaya Melayu menjadi bangsa Thai. Tercatat sampai pada tahun 1971 sebanyak 426 pondok di Patani telah melakukan registrasi dan menukar nama pondok dengan nama sekolah rakyat. Meski demikian ada beberapa pondok yang mempertahankan jatidirinya dan mempertahankan identitas Islam dan Melayu dengan konsekwensi tak dibantu.
Memang, sejak 2004, banyak pula pondok yang ditutup oleh pemerintah. Misalnya,  pondok Tuan Guru Haji Sulong al-Fatani yang bernama Madrasah Al-Ma’arif al-Wataniyah yang didirikan tahun 1950. Dari tahun 2004 sampai hari ini, sekurang kurangnya ada tiga pondok besar yang ditutup oleh pemerintah Thailand. Pondok Jihad Witaya di daerah Jering wilayah Patani, ditutup pada tahun 2006. Pondok Jalaludin di Sebaya di wilayah Songkhla ditutup pada bulan Maret 2007. Terakhir Pondok ad-Dirasat al-Islamiyah, Sepong di wilayah Narathiwat pada bulan Juni 2007.
Namun, lambat laun, karena juga tekanan international, sikap Bangkok berubah menghadapi tiga propinsi Pattani, Yala dan Narathiwat. Pemerintah Bangkok lebih banyak merangkul dan membina. Sementara umat Islam melakukan adaptasi untuk menjadi warga Thai, meski berbeda agama dan berjuang melalui budaya.
Wilayah Pattani semula adalah Kesultanan Melayu Darul Makrif yang sejak tahun 1785 ditaklukkan Kerajaan Siam. Perang tak berkesudahan dan perlawanan terakhir tahun 2004. Pattani yang semula wilayah besar kemudian dipecah menjadi tiga: Yala, Sokhkla, dan Narathiwath. Berpenduduk sekitar 600.000 jiwa termasuk sepi dengan luas wilayah sekitar  1,940.4 km2 atau 749.2 mil persegi.

Wadah Muslim
Maka kemudian berdirilah Majelis Agama Islam (MAI) yang berdiri tahun 2483 (Thai) atau tahun 1940 M. Pimpinan pertama adalah ulama kharismatik dan qadli Syar’i Pattani Tuan Guru HM Sulung bin H. Abdul Kadir Tuk Mina. Tahun 1945 dikembangkan ke empat wilayah lainnya.
Tugas MAI adalah menjadi wadah umat Islam pengurusan hal ihwal kemasjidan, memberi fatwa dan nasehat terhadap badan negara serta umat islam. Menjadi badan hukum dalam mewujudkan masyarakat ilmuan, berakhlak, berpendirian, bersatu, memiliki kekuatan menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. MAI menjadi badan penghubung antara negara dan masyarakat di dalam dan luar negeri dalam mewujudkan kerjasama maupun membawa kepentingan bersama untuk umat Islam. MAI juga memelihara dan melestarikan hasil budaya setempat yang tidak bertentan dangan dengan Islam.
H. Sulung wafat jabatan kemudian digantian H. Abdul Aziz H. Senik, kemudian H.M. Amin Tuk Mina, H. Yusof Wab Muso, dan H. Abul Wahab bin H. Abdul Wahab yang menjabat hingga tahun 2553 atau 2010.
Ketua MAI Pattani priode tahun 2554-2560 (2011-2017) ini  adalah Yangdipertua H. Abdurrahman bin Daud yang sempat menyambut kami sebentar. Ia tak bisa menyambut lama karena ia tengah mengadakan penyambutan Ramadhan yang diikuti sekitar 2.000 imam dari sekitar 700 masjid se Pattani. Karena itu ia menugaskan Baba H. Syihabuddin bin Walong, Ketua Bidang Pendidikan MAI yang lulusan Darul Ulum Mekah dan Al-Azhar Mesir.
Pimpinan MAI dipilih oleh para imam masjid di wilayah Pattani. Mereka memilih 30 orang ulama. Dari 30 ulama pilihan ini kemudian memilih beberapa orang untuk menempati sejumlah jabatan. Ada tujuh orang ketua.  Dua orang sekretaris dan dua orang bendahara. Sisanya menjadi anggota.
Dalam pertemuan itu Shihabuddin menyampaikan program dan aktifitas majelis, terutama yang menyangkut urusan kaum muslimin di Pattani, mulai dari advokasi, catat mencatat urusan perdata hingga melayani warga Thailand yang akan mau masuk agama Islam, yang selalu ada.
Dalam undang-undang dijelaskan bahwa MAI memiliki fungsi pertama sebagai waliyul amri qadli syar’i atau penasehat mufti hukum agama Islam kepada msyarakat Pattani. Kedua sebagai badan syar’i dan fatwa. Dalam wilayah ini termasuk soal rumah tangga, pernikahan, zakat dan lain sebagainya. Ketiga, pengurusan masjid. Keempat, pendidikan dan pengajaran. Kelima, badan perhubungan dan kemasyarakatan. Keenam, badan keuangan dan ekonomi.
MAI memperoleh dana dari sumbangan masyarakat an juga bantuan pemerintah. Kantor MAI cukup bagus berlantai empat dan semua dilengkapi pendingin dan wifi.
Dari sana, kami sudah ditunggu di markas tentara Pattani Thailand oleh komandan Jendral Pra Karn (panglima terotorial Thailand Selatan) dan Kolonel Chachapol Swasongshot (panglima teritorial wilayah Pattani) yang telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Hasan. Di sini diperlihatkan cara simpatik menangani kekerasan. Pelakunya tidak ditahan dan dipenjara namun justru dibina. Hal ini berhasil. Kini tengah dibangun masjid di komplek tentara itu.
“Kami menjadikan muslim bersaudara dan hidup damai di sini. Bahkan jika ada pemberontak kami tidak memenjarakannya, justru kami bina bersama dengan kaum muslimin lainnya. Setelah insaf kami bebaskan seperti warga lainnya. Kami tidak memperlakukan mereka musuh. Kami tidak memenjarakan, sebab, tindakan itu hanya akan memelihara permusuhan dan ketegangan,” kata Kolonel Hasan.
Uniknya, di markas ini terdapat foto dalam spanduk besar ulama panutan asal Yaman  Habib Umar bin Hafidz yang sangat akrab di wilayah ini. Menurut Baba Adam, beberapa jenderal Thailand sering datang ke Yaman dan Habib Umar menjadi tamu kehormatan di Thailand dan Pattani.

Ulama Palembang
Usai mengunjungi markas tentara, kami kemudian meluncur menuju area makam Syaikh Abdul Samad Al-Falimbani yang berjarak sekitar 30 kilometer dari kota. Letak makam itu tepatnya di antara Kampung Sekom dengan Cenak, kawasan Tiba,  Pattani Utara.
Di area ini nampak hanya satu makam. Awalnya tanah ini milik warga beragama Buddha, namun kini telah menjadi milik umat Islam setelah dibeli dengan gotong royong.  Makam ini dipastikan melalui kajian dan penelitian detil. Pada jalan utama menuju makam, terdapat tiga bendera: RI, Malaysia dan Thailand. (Lihat Muthalaah)

Di tanah ini nantinya juga akan dibangun pondok pesantren Asean yang diberi nama Pondok Pesantren Hidayatus Salikin, mengambil nama salah satu kitab karya Syaikh Andus Samad Al-Falimbani. (MH)

Baca Juga:

Internasional 4810815251077323203

Posting Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item