Ihwal Ulama Palembang di Kubur Pattani

Makam Syaikh Al-Falimbani di Pattani, Thailand Pada sebuah toko buku di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat, kitab Hidayatus Salikin karya ...

Makam Syaikh Al-Falimbani di Pattani, Thailand
Pada sebuah toko buku di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat, kitab Hidayatus Salikin karya Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani ternyata masih dijual dengan stok yang cukup banyak. Hari itu, sebuah mobil boks diparkir dan menurunkan  ratusan kitab Hidayatus Salikin.


Lakukah kitab ini? Tentu. “Kalau tidak laku tidak mungkin kami jual,” jawab penjualnya enteng sambil menghitung melalui kalkulator dan melayani sejumlah pedagang kitab.
Hari itu sejumlah orang memang menunggu membelinya. Yang mencengangkan, harga buku hanya Rp 10.000, setelah dipotong rabat 30%. Padahal tebal buku 352 halaman, meski dicetak di atas kertas koran.
Mengapa buku ini masih laku di pasaran? Karya ulama kuno yang ditulis dengan aksara Arab Melayu atau Arab Pegon memang masih punya pasar. Menyertai Hidayatus Salikin, menjadi best seller Majmu' Syarif (konon penulisnya Sayid Abdurrahman bin Yahya kakek Sayid Usman bin Yahya, Mufti Betawi terkenal abad 18). Karya lain semacam Sayrus Salikin karya Syaikh Samad dan Sabilal Muhtadin karya Syaikh Arsyad Banjar, tercatat masih dicetak dan masih ada pembelinya.
Sedikit mencengangkan. Sebab, ini wilayah Jakarta, bukan Palembang. Jika kitab ini laku di kota Musi itu bisa difahami. Karena pengarangnya ulama asal Palembang dan menjadi penutan keagamaan di negeri Palembang kala itu, sehingga masih memiliki keterikatan emosional.
Syaikh Abdus Samad Al-Falimbani diperkirakan lahir pada tahun 1116 H/1704 M, di Palembang. Kitab Hidayah al-Salikin ditulisnya pada tahun 1192 H/1778 M. Banyak orang menyebut karya ini sebagai tejemahan dari Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali (wafat tahun 1111 M). Namun, tak sepenuhnya benar. Karena Syaikh Samad juga memperkaya dengan kitab Al-Ghazali dan karya ulama lainnya.
Pada bagian terakhir Syaikh Samad mengutip sejumlah pendapat ulama mutakhir tentang Al-Ghazali yag memperkuat pendapatnya. Misalnya, pendapat Sayid Abdullah Al Aidrus yang mengtakan: “Dalan lazimkan olehmu hai orang yang menuntut khalwat (yakni orangyang menuntut khalwat tempat berbuat ibadah yang sunyi hanya mereka itu dari pada dunia) dengan taqlid akan Imam Ghazali pada segala amalmu dan ibadatmu dan pegang olehmu syaikh Samad. Ia hidup atau mati yang gemar engkau mengiktikadkan akan dia dan kasih akan dia dan takzim akan dia dan hormat akan dia dan engkau berikan pada kasihmu akan dia itu kemuliaan dan hartamu.”
Syaikh Samad dalam buku ini menyebutkan dirinya dengan Al-Faqir Abdusshamad Al-Jawi Al-Falimbani. Ia menyebut dirinya sebagai tuan dari kaum fakir di Mekah. Ia menyebut bahwa kitab ini adalah terjemahan dari Bidayatul Hidayah namun dengan beberap tambahan yang terkait dengan fatwa-fatwa aktual pada zamannya. Ia sengaja menuliskan adalam bahasa Jawi (Melayu) karena diperuntukkan bagi mereka yang tak mengenal dan belajar bahasa Arab.
Kitab Buidayatul Hidayah menjadi pelajaran pertama santri karena menjadi petinjuk kehidupan serta akhlak. Hal ini pula yang menjadi landasan Syaikh Samad memilih kitab yang memiliki 95 pasal dan sub pasal ini untuk bekal mencetak akhlak murid-muridnya.
Buku ini selesai ditulis di Mekah pada hgari Selasa, 5 Muharram tahun 1192 Hijrah atau 3 Februari 1778 M. Selesai ditashih oleh Syaikh Amad bin Muhammad Zain AlFatahani pada 15 Rabiul Akhir tahun 1244 (yurdlith thalibina) atau Jumat, 24 Okt 1828 M di Mesir. Pada tahun berkecamuknya perang Diponegoro (1825-1830) itulah buku ini dicetak pertama kali di Mesir melalui percetakan milik Syaikh Amjad Al-Kashmiri dan dasar tulisan tangan (khat) Syaikh Hasan At-Tukhi.
Buku ini menikmati awal kejayaan pencetakan kala itu. Hanya, karena belum memiliki huruf-huruf tertentu yang dimiliki aksara Arab Melayu membuat Hidayatus Salikin harus ditulis melalui tangan dulu (khat) yang kemudian dibuat cetak timah (klise). Seperti diketahui ada beberapa huruf Arab yang dibuat khusus untuk mengisi huruf ny, ng, c, dan g, dengan menambahkan titik pada huruf tertentu.
Al-Fathani dalam penutup kitab ini menyatakan bahwa ia perlu memeriksa manuskrip ini karena diperlukan pemahaman pembacanya. Ada beberapa tulisan yang dikerjakan orang Mesir yang tak difahami orang Jawi (Nusantara) sehinga perlu pengubahan yang dilakukan Al-Fathani.
Meski demikian, buku yang beredar di Indonesia sekarang ini adalah kitab yang ditebitkan tahun 1354 atau tahun 1935 M yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Madaniyah, Indonesia (tidak menyebutkan kota seperti lazimnya serta cetakan ke bertapa).
Dalam beberapa catatan yang ditulis sejumlah sejarawan menyatakan bahwa Syaikh Samad sendiri adalah keturunan Yaman. Ayah Syaikh Samad adalah Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad Al-Mahdani yang dilantik sebagai Mufti negeri Kedah (Malaysia) pada awal abad ke-18. Sementara ibu Syaikh Samad adalah Radin Ranti, wanita Palembang yang menjadi istri kedua Syeikh Abdul Jalil. Istri Syaikh Jalil pertama adalah Wan Zainab, puteri Dato´ Sri Maharaja Dewa di Kedah.
Syeikh Abdus Shamad mendapat pendidikan dasar dari ayahnya sendiri di Kedah. Kemudian Syeikh Abdul Jalil mengantar semua anaknya ke pondok di negeri Pattani (Thailand Selatan). Zaman itu memang di Pattani lah tempat menempa ilmu-ilmu keislaman. Shamad menimba ilmu mengikuti abang-abangnya lain ibu Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir di Pondok Bendang Gucil di Kerisik, atau Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala yang semuanya terletak di Pattani. Di antara para gurunya di Patani, yang dapat diketahui dengan jelas hanyalah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok.
Sistem pengajian pondok di Patani pada zaman itu sangat terikat dengan hafalan matan ilmu-ilmu Arabiyah yang terkenal dengan ‘llmu Alat Dua Belas’. Dalam bidang syariat Islam dimulai dengan matan-matan fiqh menurut Mazhab Imam Syafi’i. Di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/usuluddin menurut faham Ahlus Sunah wal Jamaah yang bersumber dari Imam Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.
Ia juga mempelajari ilmu sufi daripada Syeikh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf daripada Syeikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin Al-Sumatrani, kedua-duanya dari Aceh.
Puas di Patani, ia kemudian melanjtukan ke Mekah dan Madinah. Ia bertemu dengan ulama-ulama asal Indoensia seperti Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan lain sebagainya. Ia banyak belajar dari Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Syaikh Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, Syaikh Abdul Al-Mun´im Al-Damanhuri, Syaikh Ibrahim Al-Rais, Syaikh Muhammad Murad, Syaikh Muhammad Al-Jawhari, Syaikh Athaullah Al-Mashri, dan sejumlah ulama tertkenal lainnya.
Di Nusantara, khususnya di Indonesia, pengaruh Al-Palembani dianggap cukup besar, khususnya berkaitan dengan ajaran tasawuf. Jiwa berontaknya kepada Belanda menguat dan membawanya kembali ke Mekah dengan membuat perahu sendiri.
Hidyatus Salikin sendiri merupakan buku ketiga setelah ia menulis buku Zahratul Murid (1178 H/1764 M), Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah (1179 H/1765 M). Hidayatus Saliki juga mengilhaminya menulis kitab tebal yang diberi nama Sayrus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin (1194 H/1780 M-1203 H/1788 M) dan lain sebagainya.
Syaikh Samad juga tercatat pernah mengirim surat kepada Sultan Hamengkubuwono I, Sultan Mataram dan kepada Susuhunan Prabu Jaka atau Pangeran Singasari Putera Amengkurat IV. Surat-surat tersebut jatuh ke tangan Belanda di Semarang (tahun 1772 M).
Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani telah lama bercita-cita untuk ikut serta dalam salah satu peperangan/pemberontakan melawan penjajah. Namun setelah dipertimbangkan, beliau lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam yang beragama Buddha.
Sebelum perang itu terjadi, Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani, Mufti Kedah mengirim sepucuk surat kepada Sheikh Abdus Shamad di Mekah. Surat itu membawa maksud agar diumumkan kepada kaum Muslimin yang berada di Mekah bahawa umat Islam Melayu Pattani dan Kedah sedang menghadapi jihad mempertahankan agama Islam dan watan (tanah air) mereka.
Dalam peperangan itu, Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani memegang peranan penting dengan beberapa panglima Melayu lainnya. Sejarawan Al-Baythar menyatakan, Al-Palimbani meninggal setelah 1200/1785. Tetapi kemungkinan besar dia meninggal setelah 1203/1789,tahun ketika dia menyelesaikan karyanya yang terakhir dan paling masyhur, Sayr Al-Salikin yang dalam usia 85 tahun. Kitab dua jilid ini selai ditulis pada 20 Ramadhan 1203 H di Taif, kira-kira bersamaan tahun 1789 M.
Tapi, sejarawan Malaysia Wan Shaghir Abdullah mencatat: “Dalam Tarikh Salasilah Negeri Kedah diriwayatkan, dia terbunuh dalam perang melawan Thai pada 1244/1828. Tetapi saya sukar menerima penjelasan ini, sebab tidak ada bukti dari sumber-sumber lain yang menunjukkan Al-Palimbani pernah kembali ke Nusantara. Lebih jauh lagi, waktu itu mestinya umurnya telah 124 tahun terlalu tua untuk pergi ke medan perang. Walaupun Al-Baythar tidak menyebutkan tempat di mana Al-Palimbani meninggal, ada kesan kuat dia meninggal di Arabia”.
Uniknya, data lain pada manuskrip Al-Urwatul Wutsqa karya Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani yang disalin oleh Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu, salah seorang murid Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani. Pembuktian bahwa diketemukan kubur Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani di perantaraan Kampung Sekom dengan Cenak termasuk dalam kawasan Tiba, yaitu Pattani Utara. (MH)


Baca Juga:

Internasional 1822925084121309362

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item