Orang Pertama Naik Haji dari Indonesia.

Dalam sejarahnya, perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di   Nusantara membutuhkan waktu hingga dua tahun lebih karena kapal-kapal   m...

Dalam sejarahnya, perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di  Nusantara membutuhkan waktu hingga dua tahun lebih karena kapal-kapal  masih sederhana. Perjalanan menuju tanah suci saja memakan waktu sampai  enam bulan. Bukan main. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa  makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan para jemaah haji. Itu pun  masih ada persoalan lain, keamanan. Jalanan belum tentu aman.  Kafilah haji selalu harus waspada akan kemungkinan serangan para bajak  laut dan perompak di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai  dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci  karena kehabisan bekal atau terkena sakit.
Kota suci Mekah lama abad 18
Kebanyakan dari mereka yang sakit yang tak bisa meneruskan ke Mekah atau  yang meninggal ditinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal.  Persinggahan kapal antara lain Malaysia (termasuk Singapura), beberapa kota  di India hingga Jibuti dan Yaman. Sebagian mereka ada yang kemudian  tinggal dan beranak pinak di sini.

Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mudah dimengerti bila kaum  muslimin yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat  sekembalinya ke negeri asalnya. Merekapun kemudian mendapat gelar “haji”, sebuah gelar yang umum disandang para hujjaj yang tinggal di  negara-negara yang jauh dari Baitullah seperti Pakistan, Indonesia dan  Malaysia, tapi gelar ini tidak populer di negara-negara Arab yang dekat  dengan tanah suci.

Sejak kapan kaum muslimin Indonesia mulai menunaikan ibadah haji? Yang  jelas kesadaran untuk menunaikan ibadah haji telah tertanam dalam diri setiap muslim Indonesia generasi pertama semenjak para juru dakwah  penyebar agama yang datang ke nusantara memperkenalkan agama Islam.
Prof. Dadan Wildan Anas menyebutkan dalam naskah Carita Parahiyangan,  dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda  adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta  Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371). Ia  menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang  gugur dalam perang Bubat yaitu peperangan antara Pajajaran dengan  Majapahit.

Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar dan sering  melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, bahkan sampai  ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama  Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk  Islam. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan  Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa.
Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke  kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui  adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk  Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng  Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun kakaknya pun menolak.

Naskah kuno selain Carita Parahyangan yang mengisahkan orang-orang  jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji adalah Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan  Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon. Dalam  naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lain yang pernah  menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan  pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.
Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Syekh Datuk Kahpi,  Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah -diduga antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa- untuk  menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam.

Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah,  Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah,dan berputra dua orang yaitu Syarif  Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji,  Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman,  sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Sementara dari kesultanan Banten, jemaah haji yang dikirim pertama kali  adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi  maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain.
Kerajaan Atjeh dan Johor Malaysia juga mencatat perjalanan haji di abad 16  dan 17 yang begitu sulit. Demikian juga di Banten. Pada tahun 1671 sebelum  mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan  putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah  sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki.  Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar  kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji.

Menurut naskah Sajarah Banten diceritakan suatu ketika Sultan Banten  berniat mengirimkan utusannya kepada Sultan Mekah. Utusan itu dipimpin oleh Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Perjalanan haji saat itu  harus dilakukan dengan perahu layar, yang sangat bergantung pada
musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang sehingga  terpaksa sering pindah kapal.
Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara.  Dari tanah Jawa terlebih dahulu harus menuju Aceh atau serambi Mekah,pelabuhan terakhir di nusantara yang menuju Mekah. di sana mereka  menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman, atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu enam bulan atau lebih. SewaktuPerang Dunia Pertama berkecamuk, jemaah haji hanya sampai di Pelabuhan Aden, Yaman dan melanjutkan dengan unta ke Mekah. Hal ini dialami Mantan Ketua Umum MUI Pusat KH Syukri Gozali.

Syaikh Yusuf Tajul Khalwati Makassar yang pernah membela Banten  memerangi penjajah juga memanfaatkan naik haji sambil berguru kepada  Syaikh Nuruddin Arraniri yang kala itu menjadi Mufti di Aceh. Sayangnya,  ketika Syaikh Yusuf sampai di Aceh ternyata Syaikh Arraniri sudah pergi ke  Yaman dengan kapal. Syaikh Yusuf mengejarnya dengan kapal berikutnya  dan terus melanjutkan hingga haji.

Di perjalanan, para musafir berhadapan dengan bermacam-macam bahaya.  Musafir yang sampai ke tanah Arab pun belum aman. Pada masa awal perjalanan haji, tidak mengherankan apabila calon jemaah dilepas  kepergiannya dengan derai air mata; karena khawatir mereka tidak akan  kembali lagi. Sebelum meninggalkan tanah air mereka meninggalkan wasiat.  Kepergiannya juga dihantar dengan azan dan ikamat.
Demikian beberapa catatan tentang kaum muslimin Nusantara jaman dulu  yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut nampaknya ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit,  yaitu kalangan istana atau keluarga kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa  pada zaman itu- perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan  biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan  adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan  ibadah haji namun tidak tercatat dalam sejarah.

Haji juga media pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan. Banyak jemaah  haji yang memanfaatkan waktu selama di Mekah dan Madinah untuk belajar  agama Islam. Komunikasi dan transportasi yang sulit membuat jemaah haji  memanfaatkan betul eksempatan berhaji itu untuk menguatkan iman dan  menambah pengetahuan agama mereka. Syaikh Ahmad Qusyairi bin Siddiq  dari Pasuruan, Jawa Timur, misalnya, menyempatkan menghafal Al-Quran  30 juz selama di Mekah dan menulis beberapa kitab dalam bahasa Arab. 
Sekarang perjalanan haji tidak sesulit zaman dulu. Pemerintah sudah  berupaya mempermudah perjalanan haji dan memberikan pelayanan sebaik -baiknya bagi kaum muslimin yang ingin menunaikannya. Namun,  sayangnya, fasilitas di Arab Saudi terbatas sehingga jemaah haji harus  dibatasi. Inilah persoalan, ketika umat Islam sudah mencapai 1,6 miliar jiwa.  (Musthafa Helmy)

Baca Juga:

Nasional 2676442618890910948

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item