Hilal tak Bisa Dilihat

Hilal atau bulan muda yang kemarin gagal dirukyat Jakarta (KW-News). Sidang Isbat yang diselenggarakan Badan Hisab dan Rukyat Kementeri...

Hilal atau bulan muda yang kemarin gagal dirukyat
Jakarta (KW-News). Sidang Isbat yang diselenggarakan Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama hari Senin, 8 Juli lalu berjalan mulus. Semua peserta mendukung awal Ramadan 1434 Hijriyah jatuh hari Rabu, 10 Juli. Pasalnya, hampir semua petugas rukyat dari Kementerian Agama, PBNU, dan ormas lainnya gagal menyaksikan hilal Senin senja itu dari semua titik yang ditentukan.


"Dari sejumlah petugas yang kami sebarkan di beberapa titik semua melaporkan tak berhasil melihat bulan," kata Dr. Muchtar Ali, Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama RI. Itulah yang membuat Menteri Agama Suryadharma Ali begitu mudah mengetukkan palunya didampingi Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, Dirjen Bimas Islam Dr. Abdul Jamil dan Ketua Komisi VI Ida Fauziyah.
Sejumlah ormas yang hadir mendukung diawalinya puasa hari Rabu, karena secara hisab memang tak mungkin hilal bisa dilihat karena posisinya yang sangat rendah. Dengan ijtima' (konjungsi) pada pukul 14.14 WIB maka waktu ghurub itu hilal dalan ketinggian 0,5 derajat, yang mustahil bisa disaksikan, apalagi dengan masa bulan di atas ufuk hanya dua menit.
Dr. KH Malik Madani, MA, Katib Am Syuriah PBNU menyebutkan bahwa rujukan awal bulan adalah rukyat. "Rukyat adalah dasar pertimbangan awal bulan," katanya. Tapi, bukan berarti menafikan hisab. "Hisab adalah pendukung dan pemandu rukyat." Pendapat peserta lainnya menyatakan, jika ada perukyat yang mengaku menyaksikan hilal, maka ia dianggap bertentangan dengan hitungan hisab, bisa ditolak.
Muhammadiyah memang sejak jauh hari telah mengumumkan bahwa ia akan memulai puasa sejak hari Selasa, 9 Juli dengan pertimbangan hilal sudah wujud di atas ufuk. Muhammadiyah mempergunakan metode wujudul hilal. Ia tidak mempergunakan metode imkanur rukyat (mengukur ketinggian hilal yang mungkin dirukyat) yang selama ini diyakini harus memiliki ketinggian di atas 4 derajat. Memang ada yurisprudensi terlihatnya hilal pada ketinggian dua derajat pada tahun 1984, yang oleh kalangan ahli hisab dianggap sesuatu yang langka secara empiris dan ilmiah.
Ternyata Arab Saudi juga memulai puasa Ramadan pada hari Rabu, 10 Juli. Menurut harian Arab News edisi Selasa 9 Juli, Dewan Kerajaan memutuskan bukan Syakban istikmal menjadi 30 hari karena tak satu pun warga Arab Saudi bisa menyaksikan hilal. Memang, secara hisab, posisi hilal lebih rendah dibanding di Indonesia serta lama bulan di aats ufuk hanya 38 detik. Uniknya, harian Arab News mencantumkan tanggal 9 Juli sebagai 1 Ramadan.

Namun, lebaran Idul Ftri 1434 H kemungkinan akan sama dan serempak pada hari Kamis, 8 Agustus karena posisi hilal pada hari Rabu senja sudah sampai 6 derajat sehingga sangat mungkin dirukyat dari sejumlah titik. (MH)

Baca Juga:

Nasional 5087217808018879915

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item