Revolusi Arab Membuahkan Kebebasan dan Kebablasan

Jakarta (KW-News). Siapa sangka jika kebebasan berkah 'Musim Semi Arab' ternyata juga membuahkan kebebasan yang berlebihan. Seorang ...

Jakarta (KW-News). Siapa sangka jika kebebasan berkah 'Musim Semi Arab' ternyata juga membuahkan kebebasan yang berlebihan. Seorang wanita muda Tunisia berusia 19 tahun, Amina Tyler, secara berani tambil di FaceBook dengan memamerkan tubuhnya setelah bergabubng dengan Femen. Tunisia yang dikuasai Partai An-Nahdlah partai kaum Salafi berdasarkan Pemilu tahun lalu itu meradang berat.

Amina Tyler memposting dua foto toplessnya di Facebook pada pertengahan Maret setelah sebelum,nya, ia mengirim foto itu ke Femen pada bulan Februari. Gambar pertama menunjukkan Amina dengan kata-kata "Fuck your Moral" tertulis di dadanya. Dalam foto kedua di dada wanita itu tertulis 'Jasadi milki' "Tubuhku milik saya, dan bukan sumber kehormatan siapa pun." Ia mengatakan kepada surat kabar Tunisia Jadal, bahwa ia ingin "membuat suara perempuan Tunisia didengar dan perempuan dilindungi dari penindasan," seperti dikutip Bloomberg.

Foto-foto itu memicu reaksi keras dari kaum konservatif di negara itu. AFP melaporkan bahwa peretas Islam telah mengambil alih situs Femen Tunisia dan mengganti foto-foto wanita topless dengan ayat-ayat Alquran. "Terima kasih kepada Tuhan yang telah meretas halaman tak bermoral ini dengan sesuatu yang terbaik," tulis satu pesan atasnama Al-Angour.  "Halaman ini diretas atas kehendak Allah agar pesta pora ini hilang dari Tunisia," tulis yang lain.
Menurut pemilik situs kapitalis Tunisia, Adel Almi, khatib di sejumlah masjid serta kepala Komisi Amar Ma'ruf Nahi Munkar mengancam Amina dihukum dengan 80 atau 100 cambukan dan mengatakan dia bisa dirajam sampai mati. Sementara itu, pada tanggal 21 Maret, seorang wanita Tunisia kedua memposting foto topless di Facebook dan menyatakan dukungannya untuk Amina.

Kekhawatiran untuk Tyler meningkat beberapa minggu lalu di tengah ancaman hukum Islam. Beberapa media melaporkan bahwa wanita itu menghilang. Pemimpin Femen Inna Shevshenko mengatakan dia tidak dapat menghubungi aktivis Tunisia. Le Monde melaporkan bahwa keselamatan Amina diutamakan. Pengacara wanita terkenal Tunisa Bochra Belhaj Hmida mengatakan kepada AFP bahwa "Amina baik-baik saja dan akan segera sekolah lagi." Dia menambahkan bahwa "dia tidak menghilang, tidak dirawat di rumah sakit," mengatasi rumor bahwa orang tua Tyler telah dia dirawat di rumah sakit jiwa.
AFP menjelaskan bahwa Tunisia secara hukum ditetapkan kesetaraan gender sejak tgahun 1950. Namun, dalam beberapa domain, perempuan masih menghadapi diskriminasi di banyak daerah. Reaksi dukungan atas Amina juga bermuncukan dui Tunisia dan beberapa negara di Timur Tengah dan Eropah.
Aktivis feminis Tunisia juga khawatir dengan naiknya kekuasaan dari partai Islam En-Nahda di bangun dari pemilu demokratis tahun lalu. Sementara pemimpin En-Nahda telah berusaha keras untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka tidak akan mengekang hukum kebebasan pribadi. Namun, banyak perempuan di negara itu tetap khawatir.
Di bawah hukum pidana Tunisia, Tyler dapat dijatuhi hukuman hingga enam bulan penjara untuk mendistribusikan foto topless-nya jika ada yang mengeluhkan keberatan atas foto itu.
Femen adalah sebuah kelompok aktivis feminis terkenal dengan protes topless-nya, didirikan di Ukraina. Dal;am waktu singkat, Femen semakin memperluas jaringannya mendunia. Femen melakukan unjuk rasa topless terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, Vatikan dan mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. (HuffingtonPost/MH)

Baca Juga:

Internasional 2522018766054119459

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item