Peran Mahasiswa Indonesia Dalam Membantu Mengantisipasi Ancaman Ketahanan Pangan

Kharizma Ahmada Masalah kelaparan dan malnutrisi adalah masalah yang serius dan mengancam keamanan suatu Negara. Bahaya dari kelaparan san...

Kharizma Ahmada

Masalah kelaparan dan malnutrisi adalah masalah yang serius dan mengancam keamanan suatu Negara. Bahaya dari kelaparan sangat parah dan mengancam kemanusiaan. Sehingga banyak Negara yang menjadikan masalah kelaparan sebagai ancaman nasional.
Salah satu strategi yang diterapkan untuk memerangi kelaparan adalah menerapkan Food Security dimana Food Security atau keamanan pangan menurut FAO dan USDA terjadi apabila setiap orang dan setiap saat memiliki fisik, akses sosial dan akses ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka dan preferensi makanan untuk hidup aktif dan sehat. Keamanan pangan bagi rumah tangga berarti berarti akses bagi setiap anggota keluarga setiap saat untuk makanan yang cukup dan sehat dimana keamanan pangan berarti ketersediaan pangan yang bergizi dan aman. Dan kemampuan untuk menjamin ketersediaan makanan secara sosial untuk kondisi darurat.
Saat ini diperkirakan terdapat 23,63 juta penduduk Indonesia yang terancam kelaparan. Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00. Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan .
Kondisi ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Meningat bahaya kelaparan dapat mengancam stabilitas keamanan nasional dan tidak kalah hebatnya dengan ancaman terorisme dan bencana alam.
Kita bisa lihat bagaimana rakyat Ethiopia di tahun 80-an atau rakyat Zimbabwe di masa kini yang sehari-hari harus bergelut dengan kelaparan dan banyaknya tingkat kematian karena gagalnya memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Dimana, hal ini berakibat pada banyaknya rakyat Zimbabwe yang memilih eksodus meninggalkan tanah kelahirannya dan berimigrasi ke Negara tetangga, Afrika Selatan dan Namibia.
Kita tentu tidak boleh bernasib seperti Zimbabwe, dimana Negara ini pada tahun 80-an adalah lumbung pangan di Afrika namun saat ini mereka justru menjadi pengimpor pangan terbesar di Afrika, dimana hal ini dikarenakan kesalahan mereka dalam kebijakan pertanian. Dimana, pemerintahan Robert Mugabe yang secara politis ingin menguatkan posisi politiknya memutuskan melakukan kebijakan Land Reform dengan memberikan lahan-lahan pertanian produktif yang dikelola petani kulit putih kepada petani Kulit hitam yang tidak produktif, sehinga produksi pangan adi mandek karena petani kulit hitam tidak dapat memaksimalkan lahan produktif tersebut layaknya petani kulit putih.
Bagaimana dengan Indonesia?? Sejauh inikita memiliki cukup banyak lahan produktif dan petani kita juga cukup terampil dalam bertani karena bangsa ini pada dasarnya adalah bangsa Agraris. Namun, saat ini masalah terbesar adalah kurangnya kepedulian pemerintah kepada para petani. Kalau pada tahun 1985 kita pernah swasembada beras maka saat ini sangat sulit sekali untuk mencapai swasembada, bahkan pemerintah kita sangat bergantung pada Import untuk pemenuhan kebutuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi?? Padahal mengandalkan pangan kepada Impor bukanlah pilihan bijak, disamping membuat petani kita merugi karena harga beras mereka menjadi rendah juga membuat apabila kita memiliki hubungan buruk dengan Negara pengimpor tersebut, maka kebutuhan pangan akan sulit dibutuhi. Para mahasiswa sendiri dapat berpartisipasi dalam hal ini.
Hal pertama yang harus dilakukan kaum muda terutama Mahasiswa menurut saya adalah menuntut Pemerintah memperhatikan kesejahteraan petani, karena saat ini banyak petani yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.selain itu, minimnya regenerasi juga menjadi factor penghambat. Banyak anak muda di desa yang menolak menjadi petani dan lebih memilih urbanisasi ke kota besar. Sehingga jumlah petani tidak banyak dan kurang produktif. Dalam hal ini, mahasiswa dapat menjadi partner bagi pemerintah dalam mengeluarkan insentif-insentif kepada petani seperti kredit lunak yang diterapkan oleh Grameen Bank milik Mohammad Yunus, pemenang Nobel asal Bangladesh kepada petani. Sehingga mereka tidak perlu berhutang kepada rentenir, disamping itu mahasiswa juga dapat membantu memberikan pengarahan terhadap para petani mengenai cara bertani yang baik dan sesuai perubahan zaman hal ini bisa dilakukan oleh mahasiswa IPB misalnya. Selain itu para mahasiswa Indonesia juga harus mendorong regenerasi petani dengan memberikan informasi kepada para pemuda desa bahwa menjadi petani adalah profesi yang mulia, karena pekerjaan mereka sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan negeri ini hingga anak muda di desa kembali berminat menjadi petani. Coba kita bayangkan kalau anak-anak muda di desa sudah tidak berniat menjadi petani, lantas siapa yang akan meneruskan tradisi bertani, lantas bagaimana Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangannya apabila para petani tersebut tidak ada. Tentu tidak bisa mengandalkan import. Karena akan menimbulkan ketergantungan dan bargain power Negara kita terhadap Negara pengimpor menjadi lemah. Kita mungkin ingat bagaimana harga kedelai mempengaruhi perekonomian nasional hanya karena untuk kedelai kita masih mengandalkan import dari A.S. Dan kalau petani tersebut sudah tiada, maka kita akan menghadapi ancaman kelaparan yang tentu bisa parah seperti yang dialami Zimbabwe. Dampak-dampak seperti ini tentu harus diwaspadai dengan tidak menyepelekan peran petani.
Sedang langkah berikutnya adalah mengantisipasi hal-hal yang tidak diperhitungkan seperti bencana alam dan perubahan iklim, Para ilmuwan dan mahasiswa dari universitas-universitas terkait seperti IPB harus membantu para petani sadar dan mengantisipasi terjadinya perubahan iklim yang ekstrem, sehingga mereka tetap bisa panen dalam kondisi apapun dan tidak mengganggu jalannya sistim pangan nasional.
Sehingga apabila langkah-langkah tersebut dijalankan dengan baik, niscaya bencana kelaparan dapat dihindari, karena dengan kesadaran dari para petani dan sedikitnya beban ekonomi, amak mereka dapat bertani dengan semangat dan kita tidak perlu lagi bergantung pada Thailand dan Vietnam untuk import beras.

Baca Juga:

Opini 5226118696956943540

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item