Mari Berkenalan Jauh dengan Jin

Inilah karya monumental Imam Suyuthi tentang jin yang banyak dijadikan rujukan para ulama dan pakar hingga kini. Kitab karya Imam Suyuthi (849M-911M) yang diberi judul Laqtul Marjan fi Ahkamil Jan dianggap paling lengkap mambahas tentang Jin. As-Suyuthi yang bergelar Al-Hafidz (hafal sebagian besar hadis dengan sanadnya) menulis buku ini dalam 392 halaman yang konon ditulisnya dalam beberapa hari saja. Buku ini terus dicetak hingga terakhir diterbitkan oleh Darul Haram Lit-Turats Kairo, Mesir. Dalam koleksi kami tercatat tahun penerbitan 2009.
Diakui, buku ini sebenarnya merupakan revisi serta ringkasan atas karya Imam Al-Qadli Badruddin Asy-Syibli dalam Akamul Marjan fi Ahkamil Jan. “Aku meringkasnya sesuai dengan keinginanku serta memperbanyak tambahan-tambahan antara lain tentang wujud jin, macam-macam jin, makna kalimat jin, perbedaan jin dan setan, mardah, ruh dan Ifrit,” tulisnya.

Menurut Ibnu Duraid, nama jin diambil dari kata junnah yang artinya tersembunyi dan tak terlihat. Ibnu Aqil Al-Hanbali menerangkan, disebut jin karena ketersembunyiannya dan tak terlihat mata. Ada kalanya jin disebut dengan hin. Menurut Suyuthi, hin adalah jenis lain dari jin. Namun, Abu Amr Az-Zahid menyebut hin adalah anjing jin. Dalam beberapa tafsir antara lain dalam Tafsir Al-Kabir oleh Imam Ar-Razi menyebutkan bahwa penghuni alam ini sebelum manusia adalah jin dan hin.

Semua ulama muslim sepakat bahwa jin adalah makhluk Allah yang mendapat perintah sebagaimana manusia. Tak satu ulama pun mengingkari itu. Menurut Ibnu Taymiyah, seperti dikutip Suyuthi, tidak ada pertentangan dari semua kelompok musilim mengenai jin, demikian juga jin diakui oleh kalangan kafir. Karena keberadaan jin sudah dikenal sejak zaman para nabi terdahulu sehingga sudah diketahui secara umum. Tak seorang pun mengingkari keberadaan jin selain sekelompok filosof bodoh.”

Jin lebih dahulu dicipta 2.000 tahun sebelum manusia, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr bin Ash. Sementara Iblis diciptakan 40 tahun sebelum manusia. Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa jin diciptatakan untuk menjaga bumi,  seperti diciptakannya malaikat untuk menjaga langit.  Menurut Ibnu Abbas, ketika Allah SWT menciptakan Samum (dalam kaya asy-Syibli disebut Sumi) sebagai bapak jin yang diciptakan dari bara api, kemudian Allah bersabda: “Berharaplah.” Samum kemudian menjawab: “Aku ingin bisa melihat namun  tidak bisa dilihat, kami samar di atas bumi. Jika kami mati maka kembalikan hidup muda kembali.”

Jin juga makan dan minum. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa makanan jin adalah tulang belulang.  As-Suyuthi mengutip pendapat Abu Ya'la, jin seperti manusia yang makan, minum dan juga menikah. Wahb bin Munabbih ditanya tentang jin, ia menjawab: “Ada jin khusus yang seperti angin yang tidak makan dan minum. Namun ada sebagian jin yang makan, minum, menikah, dan mati.”

Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Ibnu Abid Dunya dan Abu Syaikh: “Tiada rumah tangga seorang muslim kecuali di atas atap rumahnya tinggal jin muslim. Jika mereka meletakkan makan siangnya maka jin-jin itu turun dan duduk bersama mereka. Dan jika disiapkan makan malamnya jin-jin itu turun kembali dan duduk bersama mereka.”

Jin juga menikah dan beranakpinak. Namun, mungkinkan terjadi pernikahan antara jin dan manusia. Abul Ma'ali bin Al-Manja Al-Hanbali pernah menerima aduan seorang wanita yang kerap disetubuhi jin laki-laki.  Menurut Abul Ma'aali, wanita itu tak perlu mandi junub, seperti pendapat sebagian mazhab Hanafi karena tiadanya sebab keharusan mandi junub, yaitu adanya alat kelamin laki-laki yang masuk dalam vagina dan kedua keluar cairan sperma. Namun, menurut Imam Asy-Syibli, wanita itu harus mandi junub karena dia tahu dan merasakan kenikmatan hubungan itu, walaupun tidak nyata dalam pandangan umum.

Ibnu Abbas menyebut peranakan manusia dengan jin dengan istilah mukhannats. Rasulullah sendiri pernah menyebut bahwa salah satu orangtua Ratu Balqis yang kemudian menjadi istri Nabi Sulaiman adalah jin. Dalam sebuah hadis lain disebutkan bahwa ibu Balqis bernama Fari'ah yang jin. Ada riwayat lain yang menyebut nama ibu Balqis adalah Balqiyah. Wanita jin bisa melahirkan anak manusia dan sebaliknya, wanita manusia tak bisa melahirkan anak jin.

Rasulullah melarang pernikahan jin dengan manusia dan dianggapnya sebagai bencana agama. Sebab, ditakutkan jika ada wanita hamil dan ditanya siapa suaminya kemudian dijawab jin, maka hancurlah Islam dengan cara itu. Rasulullah bersabda: “Tak akan terjadi kiamat sehingga banyak di antara kalian anak-anak jin.” Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksudkan anak-anak jin adalah anak manusia hasil hubungam suami istri yang sah namun tanpa didahului doa mohon perlindungan dari setan.

Kalangan ulama mengharamkan pernikahan itu. Sebab, persamaan jenis (manusia) menjadi syarat sahnya pernikahan.Menurut Imam Izuddin ibni Abdis Salam, jin itu adalah ruh yang lembut sementara manusia jasad kasar yang tak mungkin bisa dipertemukan dalam pernikahan.
Tempat tinggal jin antara lain adalah kamar mandi, karena itu kita disunnahkan berdoa mohon perlindungan ketika memasuki kamar mandi. Juga, lobang-lobang di tanah sehingga Rasulullah melarang siapa pun membuat air kecil ke dalam lobang di tanah , dan lain sebaganya. Rasulullah mengajarkan kita agar tak menjadi perhatian jin, ketika kita mengenakan dan membuka baju membaca Bismillahilladzi la ilaha huwa.  Disebutkan juga bahwa di antara kita ada qarin jin yang selalu menyertai hidup kita.

Seperti dijelaskan dalam surah Al-Jin bahwa sejumlah jin datang dan membenarkan kerasululan Nabi Muhammad SAW dan kemudian mengajak kaumnya untuk beriman. Dalam dalam banyak hadis disebutkan adanya jin-jin muslim dan kafir. Jin termasuk mukallaf seperti juga manusia. Namun, adakah nabi dari kalangan jin sendiri. Pendapat ulama yang kuat menyebutkan bahwa jin tak memiliki nabi. Ia selalu beriman melalui para nabi dari kalangan manusia.
Memang ada perbedaan pendapat tentang kematian jin. Menuut As-Sibly dalam menafsirkan ayat 18 dari surah Al-Ahqaf, bahwa jin tak mati menunggu sampai mati bersama-sama dengan Iblis. Namun menjurut Ibnu Abbas, jin juga mati seperti manusia. Syaikh Farid Wajdi dalam Dairatul Maarif Lil Qarnil 'Ishrin menyebut justru jin sangat mudah mati dengan sebab yang remeh, meski mereka diberi usia panjang.

Apakah jin juga masuk surga? Benar, jin seperti juga manusia yang jika beriman maka ia dijanjijan masuk surga. Hanya, jin tak memiliki keistimewaan di surga seperti yang dialami manusia. Jin di surga tidak makan dan  minum dan juga tidak bisa melihat zat Allah SWT. Karena menurut Imam Izzudin ibni Abdis Salam, melihat Allah hanya khusus untuk kaum beriman dari kalangan manusia.

Imam Suyuthi

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sabiquddien bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddin Abi ash-Shalah Ayub ibn Nashiruddin Muhammad bin Syaikh Hammamuddin al-Hamman al-Khudlairi al-Asyuyuthi. Ia lahir bakda Maghrib, malam Senin, bulan Rajab tahun 849 Hijriyah, yakni enam tahun sebelum bapaknya wafat. Syaikh Taha Abdurrauf Saad, seorang ulama Al-Azhar, Mesir, menyebut Suyuthi kemungkinan berasal dari Khudlair, Irak.
Suyuthi berasal dari lingkungan beragama yang kental. Ayahnya mengarahkannya agar hafal Al-Quran dalam usia sebelum delapan tahun. Ayahnya meminta Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani doa untuk masa depan Suyuthi. Ayahnya wafat saat Suyuthi baru berumur lima tahun tujuh bulan.  Imam Kamaaluddin bin Humam al-Hanafi pengarang Fathul Qadir kemudian menjadi guru asuhnya. Usai hafal Al-Quran ia  kemudian menghafal kitab al-’Umdah lalu nazam Alfiyah Ibnu Malik. Suyuthi tercatat sangat gandrung dengan ilmu dan umur 17 tahun sudah menulis kitab tentang keutamaan ta'awwudz dan basmalah dalam karya Syarhul Isti'adzah wal Basmalah.
Sejak itu ia sangat produktif menulis. Hingga akhir hayatnya sampai usia 61 tahun, dalam catatan muridnya Ibnu Iyas, karya Suyuthi mencapai lebih 600 karya, baik karya besar maupun kecil, meskipun yang terdata rapi tercatat 460 kitab. Hal yang sama dengan jumlah gurunya yang mencapai 600 ulama. Dalam setahun ia menulis sekitar 15 kitab. Bahkan, Imam Suyuthi pernah disaksikan para muridnya dalam sehari selesai menulis tiga kitab.

Ia menulis berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menunjukkan bahwa ia menguasai ilmu-ilmu itu. Imam Suyuthi tercatat sebagai ulama paling produktif dalam menulis. Sedandainya ia hidup sekarang ia akan masuk dalam Guinness Book of Record. Karya-karyanya sampai sekarang masih selalu dikaji baik di pesantren maupun perguruan tinggi. Misalnya,  Al-Itqaan fi‘Ulumil Quran masih tetap menjadi rujukan utama ilmu tafsir. Terinspirasi Alfiyah Ibni Malik, maka iapun menulis Alfiyah fi ilmil hadits dan Alfiyah dalam qiraah ashrah (qiraat sepuluh Al-Quran) dalam bentuk nazam bahar Rajaz.

Jam'ul Jawami' sebuah karya penting ushul fikih yang paling tinggi kelasnya yang terus dikaji. Jami'ush Shaghir adalah mu'jam hadis pertama yang dibuat secara abjadi olehnya lngkap dengan rawi dan peringkat hadisnya. Al-Ashbah wan Nadlair juga merupakan karya penting tentang kaidah fikih yang terus dipakai hingga kini. Karya tafsirnya yang sederhana Tafsir Al-Jalalain (yang ditulis bersama Jalaluddin Al-Mahalli) juga menjadi pengangar mengenal tafsir di kalangan pesantren.
Imam Suyuthi wafat pada hari Jum’at, malam tanggal 19 Jumadal Ula tahun 911 H setelah sakit selama tujuh hari. Jenazahnya dimakamkan di Kairo dan selalu ramai peziarah. (Musthafa Helmy)

Baca Juga:

Serba Serbi 2238891976280475428

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item