Malala Gadis Remaja yang Guncang Dunia

Jakarta (KW-News). Untuk pertama kalinya PBB mengundang seorang remaja 'ingusan' untuk bicara di mimbar terhormat itu. Malala, gad...

Jakarta (KW-News). Untuk pertama kalinya PBB mengundang seorang remaja 'ingusan' untuk bicara di mimbar terhormat itu. Malala, gadis Pakistan yang cerdas itu mengguncang dunia ketika bus sekolah yang ditumpanginya ditembaki Taliban pada Oktober tahun 2012 lalu. Bersaamaan dengan usianya yang memasuki 16 tahun, PBB menjadikannya ikon pendidikan global.
Tepat, Jumat 12 Juli 2013 Malala berpidato dalam bahasa Inggris yang fasih di Majelis Umum PBB dan menyerukan pendidikan global bagi seluruh anak di dunia tanpa kecuali. PBB menyatakan bahwa 12 Juli, hari kelahiran Malala, sebagai Hari Malala. Berikut ini teks lengkap pidato Malala yang menyentuh dan beberapa kali terhenti oleh gemuruh tepuk tangan hadirin itu:
"Bismillah Arrahman Arrahim. Atas nama Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Yang terhormat Sekjen PBB Bapak Ban Ki Moon, Yang terhormat Presiden Majelis Umum PBB Bapak Vuk Jeremic, Yang terhormat Utusan Khusus PBB untuk Pendidikan Global, Bapak  Gordon Brown, para tetua dan saudara saudara: Assalammualaikum."
"Hari ini adalah kehormatan bagi saya untuk bisa bicara lagi setelah sekian lama. Berada di sini, di antara hadirin yang mulia, adalah momen yang luar biasa dalam hidup saya. Saya juga merasa amat terhormat hari ini karena saya mengenakan syal dari Benazir Butho yang telah sahid. Saya tidak tahu harus mulai dari mana pidato ini. Saya tidak tahu orang mengharapkan saya bicara apa. Pertama-tama,  terimakasih Tuhan, karena kita semua diciptakan sama. Terima kasih juga pada semua orang yang telah berdoa untuk kesembuhan saya yang cepat, dan hidup saya yang baru. "
"Saya tidak bisa percaya betapa besar cinta yang diberikan pada saya. Saya menerima ribuan kartu ucapan semoga cepat sembuh dari seluruh penjuru dunia. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk anak-anak yang dengan dunianya yang polos menguatkan saya. Terimakasih untuk para tetua yang doanya menguatkan saya. Saya juga ingin berterimakasih pada para  perawat, dokter dan staf rumah sakit di Pakistan dan di Inggris, yang telah merawat saya. Juga terima kasih pada pemerintahan Uni Eropa yang telah membantu saya sembuh dan menemukan kembali kekuatan saya."
"Saya sepenuhnya mendukung  inisiatif Sekjen PBB Ban Ki Moon yakni  Global Education First Initiative. Juga kerja-kerja Utusan Khusus PBB Gordon Brown dan Presiden Majelis Umum PBB Vuk Jeremic. Saya berterimakasih pada kepemimpinan mereka dan pada upaya mereka untuk terus menerus membantu dan memberi. Mereka juga terus menerus memberikan inspirasi agar kita terus bekerja. "
"Saudara saudariku, ingatlah satu hal, Hari Malala bukanlah hari saya. Hari ini adalah hari ketika semua perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan,  yang telah bersuara untuk hak mereka. Ada ratusan aktivis HAM dan pejuang sosial yang tak hanya bicara untuk diri mereka tapi juga berjuang untuk mewujudkan perdamaian, pendidikan dan kesetaraan.  Ada ribuan orang yang dibunuh teroris, dan jutaan orang cedera. Saya hanya salahsatu dari mereka."
Berita tertembaknya Malala emang mengguncang dunia. Gadis yang masih berusia 14 tahun itu mengalami luka hebat yang harus dirawat di Inggris. Dunia kaget dan mengundang perhatian dari seluruh lapisan pada Desember tahun lalu. "Terimakasih banyak atas berlimpahnya kasih sayang dan dukungan. Saya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang mendukung saya tanpa membedakan agama maupun ras," atanya seperti dikutip BBC.
Pesan yang diumumkan anak perempuan berusia 14 tahun itu menegaskan bahwa orang-orang sebenarnya mendukung gagasannya dan bukan individu. "Mari kita bekerja sama untuk memberi pendidikan kepada perempuan di seluruh dunia," tambah pesan itu seperti dikutip kantor berita Pakistan, APP. Dia juga menyatakan memuji anak-anak perempuan yang tetap meneruskan pendidikan di kawasan tempat tinggalnya di kawasan Swat di sebelah barat laut Pakistan.
Malala ditembak oleh sekelompok orang yang tidak dikenal pada pekan pertama Oktober ketika sedang dalam perjalanan pulang sekolah di Mingora, Swat. Kisahnya mendapat perhatian dari seluruh dunia dan banyak perempuan dari seluruh dunia yang menempatkan dia sebagai pahlawan pendidikan. Majalah berita mingguan terkemuka AS Time dan Newsweek sempat menurunkan laporan utama tentang Malala.
Sementara itu pada tanggal 10 Desember di Paris, pemerintah Pakistan bersama UNESCO menggelar kampanye untuk meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan. Kampanye itu akan diberi nama Stand Up for Malala, Stand up For Girls' Right to Education, dan peluncurannya dihadiri oleh Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari. (MH)

Baca Juga:

Internasional 3756008408620761836

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item