Ke Taif ke Makam Ibnu Abbas

Kota Taif Arab Saudi Kota Taif adalah ibukota Arab Saudi saat musim panas seperti sekarang ini.  Udaranya yang sejuk menjadi tumpuan p...

Kota Taif Arab Saudi
Kota Taif adalah ibukota Arab Saudi saat musim panas seperti sekarang ini.  Udaranya yang sejuk menjadi tumpuan para pangeran, pejabat,dan miliuner  Arab Saudi. Perjalan dengan mobil dari Mekah bisa ditempuh sekitar dua  jam. Jalan mendaki dan berkelok memberi keindahan tersendiri. Meski di  kanan kiri selalu tertulis hati-hati mengemudi jalanan rawan kecelakaan.
Taif masuk dalam provinsi Mekkah yang memiliki ketinggian 1.800 meter di  atas permukaan laut dan berada di lereng Pegunungan Sarawat. Taif juga  menjadi kota tempat dilahirkannnya Sayyidina Usman bin Affan. Mantan  Putera Mahkota Pangeran Nayef bin Abdul Aziz jugha dilahirkan di Taif. Juga,  penyanyi Tariq Abdul Hakim yang terkenal lagunya Ya Reem Wadi Thaqif."  Begitu juga Sultan Sharif Ali, Sultan ketiga Brunei Darussalam lkahir di kota  wisata itu.  


Sampai di kota itu, tanyalah di makam Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas.  Semua orang akan segera memberitahu Anda di mana letak makan salah  seorang sahabat Rasulullah yang menonjol itu. Makamnya yang megah seolah  tak sepadan dengan kebijakan penguasa Arab Saudi dan sekte Wahhabi yang  tak suka ada makam megah. Entah dibiarkan atau karena jarang orang yang  berziarah, sehinga siapa pun bisa berziarah makam Ibnu Abbas dengan  leluasa.
Hal serupa tak mungkin kita dapatkan ketika ketika di pemakaman Baqi di  Madinah atau Ma'la di Mekah. Pengawalnya galak-galak dan menyatakan  bid'ah atau syirik. Kita berdoa harus menghadapkiblat tak boleh menghadap  makam. Berkali-kali polisi amar ma'ruf nahi mungkar (polisi keagamaan)  menghardik siapa saja yang terlalu lama di komplek pemakaman itu.

Abdullah bin Abbas ra, adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang amat di  cintai oleh Rasulullah SAW. Ia sengaja hijrah ke Taif dan ingin dimakamkan  di kota dingin ini karena menanganggap bahwa Mekah dan Madinah sangat  tinggi kedudukannya sehingga ia belum layakdimakamkan di dua kota suci  itu.
Taif, sebagaimana kita ketahui dalam sejarahNabi Muhamamd pernah dua  kali disinggahi iuntuk berdakwah. Pertama pada waktu beliau mengajak dan  mencari suaka politik di Thaif karena orang kafir Makkah memusuhinya.  Tetapi, penduduk Thaif menolak, bahkan mencaci dan melemparinya dengan  batu, hingga kaki Nabi Muhammad SAW berdarah-darah. Tetapi, kondisi itu  tidak membuat Nabi Muhammad SAW menyesal atau dendam kepada mereka.  Malahan beliau mendoakan orang-orang yang menyakitinya agar Allah SWT  memberikan hidayah. Karena memang penduduk Taif yang memusuhinya  kondisinya masih jahiliyyah dan babyakdipengaruhi warga Mekah. 
Berikutnya, Nabi SAW dan Abu Bakar, Umar, Ali Ibn Abi Thalib datang untuk  membebaskan kota Taif. Nabi Muhammad dengan beberapa sahabat lain  mengajak Bani Tsaqif untuk memeluk islam setelah perang Hunain. Di Taif  terjadi peperangan, 11 sahabat Rasulullah gugur syahid. Mereka dimakamkan  di Taif (makam para syuhada), yang di dekat tempat itu sekarang di bangun  Masjid Besar.

Masjid besar yang dibangun di Thaif dinamakan dengan Masjid Abdullah Ibn  Abbas yang dibangun pada tahun 592 H. Masjid itu dinamakan Masjid Ibn  Abbas, karena tempatnya disamping Makam Ibn Abbas. Makam Ibn Abbas  terletak di depan tempat salat wanita sekarang. Ada juga seorang tokoh  besar yang bernama Imam Muhammad bin Al-Hanafiyah bin Ali Ibn Abi Thalib  yang juga dimakamkan di situ. Dia anak Sayidina Ali dari istrti selain  Fathimah.
Abdullah bin Abbas adalah seorang sahabat Nabi dan juga sepupunya sejajar  dengan Ali bin Thalib. Ia adalah anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib,  paman dari Rasulullah Muhammad SAW. Ibnu Abbas lahir tahun 619 M dan  wafat diTaif tahun 687M atau 68H dalam usia 68 tahun. Dalam riwayat lain  Ibnu Abbas dalam usia 75 tahun dan 78 tahun.

Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan  banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga  menurunkan seluruh Khalifah dengan nama Bani Abbasiyah. Abbasiyah  dirujuk pada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu  Abbas bin Abdul-Muththalib. Karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani  Hasyim. Abbasiyah berkuasa mulai tahun 750M dan memindahkan ibukota  dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan  meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan  bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan  nama Mamluk. Selama tiga abad berkuasa dan kemudian dipaksa   menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering  disebut amir atau sultan.
Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk  mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di  Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya  pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin  memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil  meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah  Abbasiyah pertama.

Keluarga kaya

Ibnu Abbas merupakan anak dari keluarga yang kaya dari perdagangan  bernama Abbas bin Abdul-Muththalib. Ibunya adalah Ummu al-Fadl Lubaba,  yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, mengikuti jejak teman  dekatnya Khadijah binti Khuwailid yang istri Rasululah.Ayah Ibnu Abbas dan ayah Nabi Muhammad merupakan bersaudara dari  Syaibah bin Hasyim yang lebih dikenal dengan nama Abdul-Muththalib. Ayah  orang itu adalah Hasyim bin Abdulmanaf, penerus dari Bani Hasyim klan dari  Quraisy yang terkenal di Mekkah. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara  bernama Fadl bin Abbas.Kedekatan Rasulullah dengan Ibnu Abbas hampir sama kedekatannya dengan  Sayidina Ali karramallahu wajhah. Ibnu Abbas pernah didekap Rasulullah  SAW, kemudian Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, ajarkanlah kepadanya  hikmah." Yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Quran.  Karena itu tafsir pertama yang diterbitkan adalah Tanwirul Miqbas fi Tafsiri  Ibnu Abbas, karya tafsir Ibnu Abbas. Beliau senantiasa mengiringi Nabi. Beliau menyiapkan air untuk wudhu`  Nabi. Ketika salat, beliau berjemaah bersama Nabi. Apabila Nabi melakukan  perjalanan, ia ikut pergi bersama. Ia juga kerap menghadiri majelis-majelis  Nabi. Akibat interaksi yang sedemikian itulah, ia banyak mengingat dan  mengambil pelajaran dari setiap perkataan dan perbuatan Nabi.
Pernah satu hari Rasulullah memanggil Ibnu Abbas yang sedang merangkak- rangkak di atas tanah. Rasulullah kemudian menepuk-nepuk bahunya dan  mendoakannya, “Ya Allah, jadikanlah Ia seorang yang mendapat pemahaman  mendalam mengenai agama Islam dan berilah kefahaman kepadanya di dalam  ilmu tafsir.”

Ibnu Abbas juga bercerita, “Suatu ketika Nabi hendak ber-wudhu, maka aku  bersegera menyediakan air untuknya. Beliau gembira dengan apa yang telah  aku lakukan itu. Sewaktu hendak memulai salat, beliau memberi isyarat  supaya aku bendiri di sebelahnya. Namun, aku berdiri di belakang beliau.  Setelah selesai salat, beliau menoleh ke arahku lalu berkata, ‘Hai Abdullah,  apa yang menghalangi engkau dari berada di sebelahku?’ Aku berkata, ‘Ya  Rasulullah, engkau terlalu mulia dan terlalu agung pada pandangan mataku  ini untuk aku berdiri bersebelahan denganmu.’ Kemudian Nabi mengangkat  tangannya ke langit lalu berdoa, ‘Ya Allah, karuniakanlah ia hikmah dan  kebijaksanaan dan berikanlah ilmu daripadanya.’”
Usia Ibnu Abbas baru menginjak 15 atau 16 tahun ketika Nabi wafat. Setelah  itu, pengejarannya terhadap ilmu tidaklah usai. Beliau berusaha menemui  sahabat-sahabat yang telah lama mengenal Nabi demi mempelajari apa-apa  yang telah Nabi ajarkan kepada mereka semua. Tentang hal ini, Ibnu Abbas  bercerita bagaimana ia gigih mencari hadis yang belum diketahuinya kepada  seorang sahabat penghafal hadis.
“Aku pergi menemuinya sewaktu dia tidur siang dan membentangkan  jubahku di pintu rumahnya. Angin meniupkan debu ke atas mukaku sewaktu  aku menunggunya bangun dari tidurnya. Sekiranya aku ingin, aku bisa saja  mendapatkan izinnya untuk masuk dan tentu dia akan mengizinkannya.  Tetapi aku lebih suka menunggunya supaya dia bangun dalam keadaan segar  kembali. Setelah ia keluar dan mendapati diriku dalam keadaan itu, dia pun  berkata. ‘Hai sepupu Rasulullah! Ada apa dengan engkau ini? Kalau engkau  mengirimkan seseorang kemari, tentulah aku akan datang menemuimu.’ Aku  berkata, “Akulah yang sepatutnya datang menemui engkau, karena ilmu itu  dicari, bukan datang sendiri.’ Aku bertanya kepadanya mengenai hadis yang  diketahuinya dan aku mendapatkan riwayat darinya.”

Dengan kesungguhannya mencari ilmu, baik di masa hidup Nabi maupun  setelah Nabi wafat, Ibnu Abbas memperolah kebijaksanaan yang melebihi  usianya. Karena kedalaman pengetahuan dan kedewasaannya, Umar bin  Khaththab menyebutnya ‘pemuda yang matang’. Khalifah Umar sering  melibatkannya ke dalam pemecahan persoalan penting negara dan kerap  mengedepankan pendapat Ibnu Abbas ketimbang pendapat sahabat-sahabat  senior lain. Argumennya yang cerdik dan cerdas, bijak, logis, lembut, serta  mengarah pada perdamaian membuatnya andal dalam menyelesaikan  perselisihan dan perdebatan. Beliau menggunakan debat hanya untuk  mendapatkan dan mengetahui kebenaran, bukan untuk pamer kepintaran  atau menjatuhkan lawan. Hatinya bersih dan jiwanya suci, bebas dari  dendam. Ia selalu mengharapkan kebaikan bagi setiap orang, baik yang  dikenal maupun tidak.

Umar juga pernah berkata, “Sebaik-baik tafsir Al-Quran ialah dari Ibnu Abbas.  Apabila umurku masih lanjut, aku akan selalu bergaul dengan Ibnu Abbas.”  Sa`ad bin Abi Waqqas menerangkan, “Aku tidak pernah melihat seseorang  yang lebih cepat dalam memahami sesuatu, yang lebih berilmu dan lebih  bijaksana daripada Ibnu Abbas.” Ibnu Abbas tidak hanya dikenal karena  pemikiran yang tajam dan ingatan yang kuat, tapi juga dikenal murah hati.  Teman-temannya bersaksi, “Kami tidak pernah melihat sebuah rumah penuh  dengan makanan, minuman, dan ilmu yang melebihi rumah Ibnu Abbas.”
Ibnu Abbas pun pernah menduduki posisi gubernur di Bashrah pada masa  kekhalifahan Ali. Penduduknya bertutur tentang sepak terjang beliau, “Ia  mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara. Apabila ia berbicara,  ia mengambil hati pendengarnya; Apabila ia mendengarkan orang, ia  mengambil telinganya (memperhatikan orang tersebut); Apabila ia  memutuskan, ia mengambil yang termudah. Sebaliknya, ia menjauhi sifat  mencari muka, menjauhi orang berbudi buruk, dan menjauhi setiap  perbuatan dosa.”
Ibnu Abbas meriwayatkan sekitar 1.660 hadis. Dia sahabat kelima yang  paling banyak meriwayatkan hadis sesudah Aisyah. Beliau juga aktif  menyambut jihad di Perang Hunain, Tha`if, Fathu Makkah dan Haji Wada`.  Selepas masa Rasul, Ia juga menyaksikan penaklukkan Afrika bersama Ibnu  Abu As-Sarah, Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib.

Melihat Jibril

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah melihat  Malaikat Jibril dalam dua kesempatan. "Aku bersama bapakku (Abbas) di sisi  Rasulullah dan di samping Rasulullah ada seorang laki-laki yang  membisikinya. Maka seakan-akan beliau berpaling dari bapakku. Kemudian  kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, Wahai anakku,  tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu (Rasulullah) seperti  berpaling (menghindari aku)? Maka aku menjawab, Wahai bapakku,  sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya." Ibnu Abbas berkata melanjutkan. "Kemudian kami kembali ke hadapan  Rasulullah dan lantas bapakku berkata, Ya Rasulullah aku berkata kepada  Abdullah yang menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di  sampingmu yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar? Rasulullah balik  bertanya, Apakah engkau melihatnya ya Abdullah? Kami menjawab, Ya.  Rasulullah bersabda, Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihissalam. Dialah yang  menyibukkan kami dari kamu sekalian."
Kemudian, Abbas mengutus Ibnu Abbas kepada Rasulullah dalam suatu  keperluan, dan Ibnu Abbas menjumpai Rasulullah bersama seorang laki-laki.  Maka tatkala ia kembali dan tidak bicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah  bersabda, Engkau melihatnya? Abdullah (Ibnu Abbas) menjawab, Ya.  Rasulullah bersabda, Ia adalah Jibril. Ingatlah sesungguhnya ia tidak akan  mati sehingga hilang pandangannya (buta) dan didatangkan ilmu."
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Ibnu Abbas pernah di doakan Nabi  Muhammad dua kali, saat didekap beliau dan saat ia melayani Rasulullah  dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa, "Ya Allah fahamkanlah  (faqihkanlah) ia." Benar. Ibnu Abbas wafat dalam keadaan buta dan menjadi  gudang ilmu bagi siapa saja. (MH)

Baca Juga:

Agama Islam 3781878504352441994

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item