Sejarah Haji: Saksi Hidup Misi Haji Tahun 1952

Jakarta (KW) Jangan sekali-kali bayangkan perjalanan haji tahun 1952 sama dengan perjalanan haji tahun ini. Pelaksanaan haji tahun-tahun lalu bisa memawakan waktu sampai tiga bulan lebih karena semua perjalanan jemaah haji baru diselenggarakan melalui laut. Apalagi sebelum ada kapal api yang perjalanan haji bisa berbulan-bulan.

KH Hasan Abdillah ditunjuk sebagai anggota Majelis Pimpinan Haji (MPH) Indonesia pada tahun 1952 atas ajuan KH. A. Wahab Hasbullah yang saat itu menjabat sebagai Rais Am Syuriah PBNU. Hasan Abdillah yang kala itu masih berusia muda, sekitar 24 tahun dipercaya menjadi salah satu pemimpin perjalanan jemaah haji Indonesia.
KH Abdillah bersama Menag dan KH Abdullah Faqih
Kini, dalam usianya yang telah mencapai 82 tahun itu ia masih mampu mengingat peristiwa 58 tahun yang lalu. “Saya masih ingat berangkat dengan kapal Cyclops. Kapalnya masih baru yang dibeli dari Inggris,” kenangnya.  Kapal Cyclops cukup terkenal dalam angkutan perhajian. Dalam sejarahnya, Cyclops juga mengangkut jemaah haji Malaysia dan Singapura.

Dalam satu kapal itu ada dua MPH. Penumpang kapal itu sekitar 2.800 orang. ”Waktu itu yang bertugas sebagai MPH di kapal itu saya dan seorang wartawan asal Banjarmasin yang usianya lebih tua dari saya. Karena saya memiliki latar belakang pendidikan agama, maka ia menyerahkan bimbingan manasik jemaah haji kepada saya.”

Tapi, karena usia dan kematangan, wartawan asal Banjarmasin yang namanya sudah hilang dari ingatannya itu, dijadikan pimpinan perjalanan dan Hasan sebagai wakil dan sekaligus pembimbing agama dan manasik di kapal.

Haji Anugerah

Proses berhaji bagi Kiai Hasan memang unik. Ketika itu ia baru pulang menjadi santri di Pondok Pesantren Gengong, Probolinggo, dan sekarang menjadi Pondok Pesantren Zainul Hasan. Ia berguru kepada seorang ulama alim dan wali bernama Kiai Hasan bin Syamsuddin. Di pesantren itu ia banyak dilatih bagaimana menjadi pemimpin dan pendidik.

Suatu saat, setelah ia kembali ke Banyuwangi membantu pesantren ayahnya, Syaikh Ahmad Qushairi bin Shiddiq, sang ayah datang mengabarkan ada titipan dan Kiai Hasan Genggong uang sebanyak Rp 10 yang harap dipakai untuk menunakan ibadah haji.

Dalam pikir Hasan Abdillah, bagaimana mungkin ia berhaji dengan uang sebesar Rp 10.  Tapi, ia yakin bahwa apa yang diberikan gurunya apalagi melalui ayahnya, akan banyak memberi manfaat. Karena itu uang itu disimpannya terus.
KH Abdillah saat umrah 2012
Tiba-tiba dalam suatu pertemuan, Syaikh Ahmad bertemu Kiai Wahab Hasbullah yang keduanya pernah aktif mengajar di Tashwirul Afkar Surabaya. Dalam pembicaraan itu, tercetuslah nama Hasan Abdillah untuk naik haji sebagai petugas dan sekaligus anggota MPH. Tak terbayangkan waktu itu jika kemudian ia menunaikan ibadah haji sebagai anggota pimpinan perjalanan haji atau istilah sekarang disebut salah satu pimpinan misi haji Indonesia.

Hasan Abdillah langsung menuju Jakarta untuk menyelesaikan persyaratan yang diperlukan sebagai anggota missi haji. Atas jaminan Kiai Wahab, semua menjadi lancar termasuk proses pertanyaan di DPR. Waktu itu sebagai Menteri Agama RI adalah K.H. Wahid Hasyim, tokoh yang tidak asing. Kiai Hasyim Asy’ari sangat dekat hubungannya dengan K.H. Muhammad Shiddiq, kakek Hasan Abdillah. Kiai Shiddiq Jember dan Kiai Yasin Pasuruan adalah dua ulama yang diminta restu oleh Kiai Hasyim dan Kiai Wahab ketika awal mula mendirikan Nahdlatul Ulama. Kiai Yasin adalah kakek Hasan Abdillah dari sisi ibu. Nama-nama besar ini menjadi jaminan untuk menerima Hasan Abdillah sebagai anggota MPH.

Selama di Jakarta ia manfaatkan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh. Bersama paman iparnya, H. Mushonnif di Krukut, Hasan Abdillah bisa hadir dalam acara Halal bi Halal di RRI dan di situlah awal istilah Halal Bi Halal tercetus atas usul Bung Karno tahun 1952. H. Mushonnif kebetulan adalah penyiar bahasa Arab RRI yang siarannya bisa ditangkap hingga di Timur Tengah melalui gelombang pendek (SW).

Waktu Singkat

Proses dan tugas menjadi MPH cukup sulit dan rumit. Pemberitahuan keberangaan dan status MPH baru diterima melalui telegram empat hari sebelum keberangkatan. “Saya bingung karena mengurus semua dokumen tak bisa cepat.” Tapi, kemudian ia memanfaatkan kekuatan doa. ”Saya berharap dengan doa semua bisa lancar. Saya minta doa kepada Kiai Hamid Pasuruan dan Kiai Thoha Surabaya. Benar, semua bisa diselesaikan dalam waktu singkat semua dokumen itu.”

Kapal berangkat dari Surabaya. Kapal Cyclops mengangkut jemaah haji asal Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Sepanjang perjalanan di kapal yang ditempuh selama 17 hari lebih itu selalu diisi dengan manasik haji dan pengetahuan agama. ”Saya selalu menyentuh hati jemaah haji sehingga banyak jemaah haji yang menangis mendengar ceramah saya,” kata pengasuh Pondok Pesantren Ashiddiqi, Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur ini.

Bagaimana pun perjalanan melalui kapal laut cukup menyenangkan. Sebagai pimpinan perjalanan ia tinggal di kamar seperti layaknya hotel. Cyclops adalah kapal pesiar. Sekamar ia berdua. Ada air panas untuk mandi dan lain sebagainya. Makanan dan minuman tersedia setiap saat. Makan bersama kapten kapal. Hubungan kekerabatan terjelma dalam kapal itu sehingga setiap orang hampir saling mengenal satu dengan yang lain. Tolong menolong tumbuh dengan sendirinya.

Kapal laut terdiri dari beberapa kelas. Ada kelas utama, kelas satu, kelas 2, kelas 3, dan deck. Untuk kelas, jemaah haji menempati ranjang yang baik. Tapi, untuk jemaah deck, jemaah haji tidur di lantai dengan alas kasur tipis. ”Waktu itu belum ada tempat tidur untuk deck. Jemaah seperti barang saja asal bisa dapat tempat meletakkan badan,” kata ulama yang berusia 86 tahun ini. Berbeda ketika ia menunaikan ibadah haji dengan Kapal Cut Nyak Dien tahun 1972, jemaah haji deck sudah menempati tempat tidur tingkat.
Selama di kapal ia sering menerima konsultasi agama dari jemaah haji.

Sampai di Babus Sual Jeddah jemaah haji ditanya tentang syaikh yang dipilih untuk menjadi tuan rumah pemondokan. Ayah Kiai Hasan, Syaikh Ahmad yang pernah mengajar di Masjidil Haram memiliki banyak murid yang saat itu menjadi syaikh-syaikh, antara lain Syaikh Muchtar Sidayu, Syaikh Zen Bawean, sehingga ia banyak hubungan di sana.

Sebagai anggota MPH, Hasan Abdillah menempati tempat berbeda dengan jemaah haji lainnya. Saat itulah ia dekat dengan K.H. Idham Chalid yang saat itu menjadi MPH asal Jakarta. ”Selama di Arafah dan di Mina saya tidur satu bantal dengan Pak Idham,” katanya. Idham waktu itu sudah menjabat sebagai anggota konstituante dan belum  terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. ”Saya sangat akrab dengan Idham,” katanya, mengenang.

Tiba di Jeddah ia menerima uang saku 1.000 Riyal dan 50 dinar emas. ”Saya merasa kaya sekali, sebab, sebelumnya belum pernah membayangkan dan memegang atau dapat uang sebanyak itu,” katanya. Sementara jemaah haji hanya dapat 400 Riyal. Bagi Jemaah haji yang sudah membawa bekal makanan dalam bentuk peti sahara, uang itu sudah cukup untuk sekedar membeli oleh-oleh.

Karena banyak uang itulah maka ia kemudian berkirim surat kepada adiknya, Abdurrahman (kini salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan Jawa Timur) dan menjanjikan akan membeli apa saja pesanan adik bungsunya itu.

Belum muncul jawaban adiknya, kemudian ia bertemu dengan jemaah haji asal Genteng, Banyuwagi, yang membawa surat dari ayahnya, Syaikh Ahmad Qusyairi Siddiq. Dalam surat itu ayahnya meminta Hasan banyak sedekah. ”Perbanyaklah sedekah karena buahnya nanti akan engkau petik setelah tiba di Indonesia,” tulis surat yang ditulis tangan dalam bahasa Arab itu.

Sejak itu ia rajin bersedekah. ”Saya ingat, pulang tidak bawa apa-apa selain hanya sehelai sejadah yang saya pakai selama di Makkah dan Madinah,” katanya. Sebagai anggota misi haji, ia memiliki pengalaman menarik selama menunakan haji. Kiai Hasan Abdilah menjadi tamu Raja Abdul Aziz di istana Mekah. ”Saya ingat saya dijemput dengan mobil sendiri. Setiap satu orang satu mobil. Anggota MPH hanya enam orang yang diundang Raja Abdul Aziz.”

Pulang, semua anggota MPH yang menjadi delegasi itu diberi surat pas gratis mempergunakan semua angkutan transportasi di seluruh wilayah Arab Saudi. ”Saya hanya memanfaatkan ke Taif saja selain Madinah serta Jeddah. Saya tidak memanfaatkan ke Riyadh seperti yang dilakukan beberapa teman yang lain,” katanya.

Saat bertemu Raja Abdul Aziz tak terbayangkan kegembiraannya. Ia takjub dengan keindahan istananya. Makanan melimpah. Setiap tamu mendapatkan satu meja dengan makanan melimpah, termasuk setiap meja satu ekor kambing yang diletakkan di atas nasi kebuli. Di situ berkumpul semua pimpinan delegasi haji dari semua negara yang mengirimkan jemaah haji tahun itu.

Haji Akbar

Hasan Abdillah ingat bahwa haji tahun itu adalah haji akbar, hari wukuf jatuh pada hari Jumat. ”Saya lihat waktu itu banyak musibah penyakit dan banyak jemaah haji yang meninggal dunia,” katanya.
Peranan syaikh (yang kini digantikan muassasah) waktu sangat besar karena dialah yang menentukan angkutan serta pelayanan di Mina, Arafah dan Muzdalifah. Waktu itu juga sudah ada petugas kesehatan haji.

Memang jika dibandingkan dengan tahun-tahun sekarang, musim haji tahun 1952 sangat jauh berbeda. Jemaah haji belum sebanyak tahun-tahun ini. Kenyamanan juga masih jauh dibanding dengan fasilitas jemaah sekarang. Mas’a belum tingkat. Apalagi, kini waktu berhaji cukup singkat. Di masa lalu berhaji diharuskan meninggalkan wasiat dan seolah melepas kematian.

Wafat

KH Hasan Abdillah wafat pada hari Senin tanggal 6 Muharram 1436 Hijryah atau 19 November 2012 pukul 22.45 WIB dalam usia 86 tahun di Pondok Pesantren Ashhiddiqi Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi. Ia meningalkan lima orang anak, 21 orang cucu dan 12 cicit. dan empat orang. Pemakamannya mendapat perhatian besar masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Puluhan ribu orang memadati Glenmore pada Selasa siang, hari pemakamannya.

Ia dimakamkan di komplek pemakaman keluarga yang terdapat makam Nyai Hajjah Zainab Ahmad Qusyairi (ibu tirinya), Hj. Aisyah Gondokusumo (istri pertamanya) dan Hj. Sofiyah Gondokusumo (istri sambung keduanya). (MH)  

Baca Juga:

Serba Serbi 223335732416912985

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item