Sulitnya Air di Bawean

Jakarta (KW) Kehidupan masyarakat di Dusun Rabeh, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik ternyata belum merdeka terhadap kebutuhan air...

Jakarta (KW) Kehidupan masyarakat di Dusun Rabeh, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik ternyata belum merdeka terhadap kebutuhan air, sebagai air minum, air memasak ataupun kebutuhan lainnya. Setiap hari dipastikan harus bolak - balik berjalan kaki untuk mengambil air, ataupun mengangkut menggunakan sepeda motor.

Sejak dahulu kala sampai sekarang sudah 66 tahun Indonesia Merdeka, tradisi warga mengangkut air melalui medan yang sulit dan jarak sangat jauh masih tetap berlangsung tanpa ada solusi ataupun keperdulian pemerintah.
Beberapa warga yang ditemui Media Bawean, diantaranya Sulaemah (55 th.) asal Kampung Sungaipelem, dusun Rabeh, desa Lebak, Sangkapura mengaku sejak kecil sudah mengangkut air ke sumber air yang jaraknya 1 Kilometer. "Capek tiap hari mengangkut air ke sumur, ternyata dari dahulu sampai sekarang belum ada perhatian dari pemerintah untuk memakmurkan air ke rumah warga,"katanya.
Wati (46 th.) menyatakan air yang diambil dari sumber air untuk kebutuhan pokok, seperti minum, air masak atupun ambil wudhu saat mau melaksanakan shalat. "Bila mengambil air sambil mandi di sumur, sehingga tidak menambah banyak kebutuhan air,"paparnya.
"Tak pernah diperhatikan oleh pemerintah, padahal seluruh warga disini merasa kesulitan air bersih,"pungkasnya.
Menurut Wati, ada kemudahan bila musim hujan, semua sumber dekat rumah akan keluar air, termasuk air hujan ditampungnya untuk kebutuhan sehari-hari. "Tetapi saat musim kemarau seperti sekarang butuh waktu lama, serta jarak yang sangat jauh yaitu 1,5 kilometer untuk mengangkut air,"terangnya.
Maisiyah dari Sungaipelem mengaku setiap hari mengangkut air menggunakan bak, berangkat sejak pagi sekitar jam 05.00 WIB hingga jam 06.00 WIB. Kemudian dilanjutkan sore hari sejak jam 16.00 WIB hingga jam 17.00 WIB. "Berbolak-balik hingga 5 kali untuk mengangkut air dari sumber sampai kerumahnya,"ujarnya.
Hosimah asal Rabeh Gunung, mengatakan setiap hari mengangkut air dari sumur, melalui medan sulit dengan menyusuri bukit-bukti yang tinggi membutuhkan waktu lama dan jarak yang jauh. "Kapan pemerintah akan memperhatikan nasib warga, dengan memberikan fasilitas pembangunan untuk memudahkan mengambil air bersih,"harapannya.
Fudali (warga Rabeh Gunung) yang memiliki sepeda motor memanfaatkannya untuk mengangkut air dengan menyimpan kedalam trigen lalu dibawa pulang ke rumahnya. "Setiap hari bolak-balik ke sumur untuk mengangkut air dengan menggunakan sepeda motor,"ucapnya.
Sangat beruntung bagi warga yang memiliki sepeda motor bisa digunakan mengangkut air, tetapi warga yang tidak memilikinya, lebih memilih berjalan kaki dengan memikul  bagi kaum lelaki dan menjunjung bagi kaum ibu.
Adapun jumlah KK menurut informasi Tuffa sebagai Kepala Desa Lebak, ada sekitar 80 KK, dan jumlah jiwa sebanyak 500 orang di Dusun Rabeh sangat membutuhkan air bersih. "Sudah seringkali diajukan melalui proposal, diantanya melalui PNPM ternyata sampai sekarang belum mendapatkannya. Butuh biaya besar untuk menaikkan air ke rumah warga, sehingga bantuan pemerintah sangat diharapkan,"jelasnya.
Menurut Tuffa, ada beberapa sumber air bersih di dusun Rabeh, tetapi ketinggiannya dengan pemukiman penduduk sekitar 1.000 meter, sedangkan jarakanya antara 1 sampai 2 kilometer.
"Harapan besar kepada pemerintah daerah ataupun pusat untuk memberikan bantuan alokasi anggaran, sehingga kesulitan air bersih bisa teratasi. Dan warga siap melalukan swadaya seperti bergotongroyong, ataupun membantu persediaan material seperti pasir dan lainnya. Kesuliatanya adalah mesin dan pipa untuk menyalurkan air ke rumah warga,"ungkap Tuffa. (bst/Media Bawean)

Baca Juga:

Serba Serbi 2630403395963284010

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item