Jika Dakwah Tanpa Habib Mundzir

Kalimat Lailaha illallah dibaca berulang-ulang oleh ribuat pelayat yang mengiringi kepergian Habib Mundzir bin Fuad Almusawa, Senin lalu. I...

Kalimat Lailaha illallah dibaca berulang-ulang oleh ribuat pelayat yang mengiringi kepergian Habib Mundzir bin Fuad Almusawa, Senin lalu. Ia begitu cepat dipanggil dan pergi. Dalam usianya yang masih 40 tahun, Allah menghendaki lain. Ia harus harus meninggalkan murid-muridnya yang setia menimba kajian hadis Sahih Bukhari dan Risalatul Jamiah. Karya terakhir itu adalah ringkasan karya Imam Ghazali yang ditulis oleh Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi, seorang ulama asal kota suci Madinah.
Tentu, Habib Mundzir mememiliki kelebihan dibanding ulama atau muballigh yang lain. Pertama ia adalah keturunan Rasulullah SAW. Gelar habib, sayid atau syarif menandakan keturunan mulia itu. Kedua, ia memang seorang ulama yang tekun mengajar murid-muridnya dengan ilmu agama. Ia memiliki kelebihan penguasaan ilmu pengetahuan agama yang luas yang ditimbanya di Hadramaut, Yaman, dibawah asuhan ulama besar Habib Umar bin Hafid. Ketiga, ia memiliki pengikut yang dahsyat melalui wadah Majelis Rasulullah. Keempat, ia bukan muballigh selebiriti sehingga ia memiliki pengagum dan pengikut yang mengakar dan kuat di masyarakat.
Wafat Habib Mundzir seolah menegaskan bahwa satu lapisan habaib telah kehilangan tokohnya. Habib Mundzir dan sejumlah habib-habib muda tahun 1990an telah banyak menimba ilmu agama di Tarim, Hadramaut, Yaman. Kota itu adalah kota induk para habib. Di situ dimakamkam salah satu ulama yang memulai hijrah ke Yaman, Sayid Ahmad bin Isa Al-Muhajir (lahir tahun 820M). Dialah yang membawa sekitar 70 orang keturunan Rasulullah meninggalkan Basrah, Bagdad, menuju Yaman menghindari fitnah.
Nama Habib Mundzir muncul secara tak diduga. Nama Al-Musawa di belakangnya adalah nama keluarga keturunan Rasululah yang tak banyak dan menonjol di pelataran dakwah. Ayahnya, Fuad bin Abdurrahman tercatat sebagai wartawan harian Berita Yudha dan Berita Buana. Nama-nama keluarga habaib selama ini didominasi nama Alhabsyi, Assegaf, Alatas, Bin Yahya, Bin Syaikh Abubakar bin Salim, Aljufri dan Algadri.
Kemunculan Habib Mundzir meneruskan kiprah para habaib sebelumnya. Para habib selalu terdepan di bidang dakwah. Di mana pun para habib selalu memiliki banyak pengikut dan menjadi penyayom umat. Dalam majelisnya, Habib Mundzir selalu memimpin bacaan wirid, selawat, serta Maulid Habsyi yang kemudian dibarengi kajian kitab. Model itu sekarang merebak di mana-mana. Antara lain dilakukan Habib Syaikh Assegaf di Solo, Majelis Riyadhul Jannah dari Malang, Jatim, yang berhasil mengumpulkan ribuan masyarakat di Bali pada pengajiannya Agustus lalu, dan lain sebagainya.
Habib Mundzir bisa dibilang generasi awal dibukanya hubungan pendidikan Islam di Tarim dibawah asuhan Habib Umar bin Hafid, yang secara khusus mencari kader cerdas untuk dididik di negeri itu, setelah sekian lama tak terhubungkan karena kondisi dalam negeri Yaman.
Faham agama masyarakat Yaman adalah faham ahlussunnah wal jamaah yang bermazhab Syafi'i. Dalam sejarah dijelaskan bahwa Al-Faqihul Muqaddam Muhammad bin Ali Baalwi (abad 12 M) yang meneguhkan faham ahlussunnah wal jamaah dengan pilihan fikih mazhab Imam Syafi'i yang kemudian menjadi semangat para habaib yang sebagian besar kemudian datang ke Indonesia.
Sejarah Islam Indonesia tak bisa lepas dari peran para habib asal Yaman. Hanya, generasi awal para habib yang antara lain sebagian besar Wali Sanga tak menyebut dirinya habib. Malah sebagian besar disebut dengan gelar Mbah setelah menyatu dengan budaya setempat. Gelar habib mulai muncul sejak abad 18 zaman Habib Husin Al-Aydrus, Luar Batang, Jakarta, dan para habib setelahnya. Generasi terakhir datang dari Yaman diperkirakan datang awal abad 20 karena Perang Dunia Pertama dan Yaman dikuasai Imam Yahya. Ketidakstabilan Yaman membuat sejumlah habaib seperti Habib Abdul Qadir Bilfaqih (Malang), Habib Ja'far bin Syaikhan (Pasuruan), Habib Alwi Assegaf (Gresik), Habib Alwi bin Ali Alhabsyi (Solo) Habib Salim bin Jindan dan Habib Ali Al-Habsyi (Jakarta) tercatat sebagai ulama yang datang pada tahun-tahun itu.
Tanpa Habib Mundzir dunia dakwah telah kehilangan tokoh lembutnya. Kata-katanya yang dalam dan menyejukkan hati tak akan terdengar lagi. Tapi, semangat itu telah terpateri dalam-dalam di hati pengikutnya. Bendera Majelis Rasulullah masih terus berkibar sambil menyambut kehadiran pengganti sang habib. (Majalah Gatra no 46/2013/Oleh Musthafa Helmy/wartawan senior)

Baca Juga:

Nasional 2002528791428678021

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item