Dunia Kamus Arab Nusantara Hingga Kini

Para santri atau mahasiswa yang menekuni bahasa Arab sekarang mungkin sudah jarang atau bahkan tak kenal lagi Kamus Al-Marbawi. Santri a...


Para santri atau mahasiswa yang menekuni bahasa Arab sekarang mungkin sudah jarang atau bahkan tak kenal lagi Kamus Al-Marbawi. Santri atau mahasiswa sekarang sudah mulai akrab dengan Kamus Al-Munawwir (KH Warson Munawir) atau Kamus Al-Ashri (KH Atabik Ali) yang dianggap lebih lengkap dan lebih mudah dipakai karena ditulis dalam aksara latin.
Padahal sebelum tahun 1970-an, kamus yang bisa dipergunakan santri adalah hanya Kamus Al-Marbawi. Sementara mahasiswa kita mempergunakan kamus bahasa Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus atau kamus karya Abdullah bin Nuh dan Omar Bakri. Dua kamus terakhir ini diterbitkan pertama kali tahun 1960an akhir.
Kamus Al-Marbawi yang dicetak dalam dua jilid ini sangat membantu santri ketika mencari kata-kata Arab. Kamus ini ditulis dalam bahasa dan aksara Arab-Melayu atau Arab Pego. Kamus A-Marbawi adalah kamus standar dengan rujukan sejumlah kamus besar. Ia bestandar atas Mukhtar Ash-Shihhah karya Imam Zainuddin bin Muhammad bin Abu Bakar Arrazi yang wafat tahun 666 Hijri, atau sekitar abasd 13 Mase,/m.hi, dan Misbahul Munir karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Muqri Al-Fayumi yang wafat tahun 770 H.
Tak hanya itu, ia juga merujuk Asasul Balaghah karya Imam Azzamakhsyari, Al-Bujairimi syarah Fathul Wahhab, Tajul 'Arus, Al-Munjid, Hayatul Hayawan, Dairatul Ma'arif lil Qarnil 'Ishrin karya Syaikh Farid Wajdi, Qamus Al-'Ashri (E. Eliyas), Qamus Al-Mukhit, Minhajut Thullab, dan lain sebagainya.


Kamus Moderen

Berbeda dengan karya Arrazi dan Al-Fayumi, Al-Marbawi sudah menyusun kamus secara moderen, yang sangat mungkin atas usulan penerbitnya, Musthafa Al-Babi Al-Halabi wa Awladihi di Kairo, Mesir. Sehingga dalam kamus ini ada gambar, sekitar 700 gambar (Al-Marbawi menyebut 1.200 gambar) binatang dan tumbuhan mengiringi pengertian bahasa bersama dengan18.000 entri lainnya.
Karena menyertakan gambar, karena itu Al-Marbawi memulai kamusnya dengan bab al-hukmisy syar'i fit tashwirir raqmi (hukum lukisan). “Dengan sebab kedua juz Kamus Idris Al-Marbawi mempunyai lebih 1.200 kalimat diterangkan dengan gambar, pada halnya membuat gambar itu haram, maka munasabahlah kami dahulukan membuat hukumnya di bawah ini,” tulis Al-Marbawi.
Ia mengutip hadis dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menggambar di dunia maka kelak di akhirat ia disuruh menghidupkan gambarnya itu, dan dia tidak mampu.” Dalam hadis lain disebutkan: “Sesungguhnya orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat atau penggambar.”
Dalam analisa Al-Marbawi, larangan itu hanya untuk patung, sementara lukisan tak masalah. Ia mengutip pendapat Al-Khithabi: “Sesungguhnya penggambar yang menggambar binatang, aku berharap tidak masuk dalam ancaman ini, karena hal itu hanya goresan tangan (raqm).
Al-Marbawi kemudikan mencantumkan binatang-binatang yang halal, termasuk tupai (sinjab) dan kuda nil (farasul bahr). Kemudian binatang-binatang yang haram termasuk antara lain beberapa binatang melata, burung merak (thawus), hudhud, dan sriti (khithaf). Terakhir binatang yang belum diketahui halal dan haramnya, misalnya burung bangau, kanguru dan jerapah.
Al-Marbawi tak hanya memasukkan bahasa saja, bahkan ia juga menyelipkan nama-nama tokoh penting dalam kamusnya sehingga menyerupai mini ensklopedia. Misalnya dalam entri Ibnu Majah (bab mim) ia menulis: “Ialah Abdullah bin Muhammad bin Yazid ibni Majah Ar-Rai'i, yang masyhur hafal beberapa ribu hadis. Dan ialah pengarang kitab sunan pada bicara hadis.”

Syeikh Mohd Idris bin Abdul Rauf Al-Marbawi lahir pada tanggal 10 Mei 1893 atau 28 Zulkaedah
1313 Hijrah di Misfallah di Makkah, Arab Saudi. Kedua orangtuanya berasal dari Kampung Lubok Merbau, Kuala Kangsar, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah mampu hafal 16 juz Al-Quran . Pada tahun 1323 H, saat ia masih berusia 10 tahun, keluarganya pulang ke Malaysia. Sekembalinya ke Malaysia, ia meneruskan pengajiannya di Sekolah Melayu Lubok Merbau (kini dikenal dengan Sekolah Kebangsaan Syeikh Mohd Idris Al-Marbawi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di beberapa pondok pesantren, antara lain Pondok Wan Mohammad, Bukit Chandan, Kuala Kangsar (kini dikenal sebagai Madrasah Idrisiah), Pondok Tuan Hussien Al-Masudi (Kedah), Pondok Syeikh Ahmad al-Fatani (Bukit Mertajam) dan Pondok Tok Kenali (Kelantan). Setelah lulus ia kemudian diangkat sebagai guru agama di Perak.
Pada tahun 1924 ia terpilih untuk mendapatkan bea siswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Sebagai angkatan pertama yang baru mengenal Mesir, Idris mendapat masalah komunikasi dengan bahasa Arab. Dari sinilah kemudian timbul keinginan menyusun sebuah kamus Arab-Melayu. Usaha ini kemudian didukung lima orang rekannya, antara lain Syeikh Juned Tola, dan Syeikh Tahir Jalaluddin. Tetapi usaha ini akhirnya ia jalani sendiri karena yang lain pulang ke Malaysia. Justru dengan bekerja sendiri, Idris berhasil berhasil menyelesaikan kamusnya selama tiga tahun.

Dalam pengantarnya ia menulis: “Kemudian dari pada itu, maka sebelum masuk mengarang kamus ini, lebih dahulu menerangkan maksudku mengadakannya, ialah memajukan bangsaku Melayu.” Kamus itu kemudian ia tawarkan kepada penerbit terbesar di Mesir Syirkah Musthafa Al-Babi Al-Halabi dan langsung diterima. Pada tahun itu pula kamus ini menenggak sukses yang tak hanya di Mesir bagi mahasiswa Nusantara, tapi juga di Timur Tengah yang menjadi pusara belajar agama warga Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kamus ini menjadi bahan penting dalam pembelajaran bahasa Arab, terutama di pesantren. Kamus ini kemudian berhasil dicetak berulang kali, bahkan ratusan kali. Hingga tahun 1937 –setelah 10 tahun terbit-- kamus ini sudah dicetak 24 kali.

Penerbit Al-Babi Al-Halabi kemudian juga tertarik menerbitkan karya Idris selanjutnya. Tercatat sekitar 20 buah karya Idris yang diterbitkan penerbit Al-Babi Al-Halabi dengan peredaran di Mesir, Mekah, Madinah, dan Asia Tenggara. Bahasa Melayu adalah bahasa yang juga dipergunakan oleh masyarakat Pathani, Thailand Selatan dan Moro, Filipina. Semua karya Idris ditulis dalam aksara Arab yang kemudian dikenal dengan nama Arab-Jawi (Malaysia) atau Arab-Pego (Jawa) dan Arab-Melayu (Sumatera). Hingga kini karya Al-Marbawi tetap dicetak baik di Malaysia atau Indonesia. Kamus Al-Marbawi yang beredar di Indonesia sekarang ini antara lain dicetak dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Hidayah, Surabaya, Jawa Timur.
Selain kamus Arab-Melayu, Al-Marbawi juga telah menghasilkan karya yang penting dalam bidang
hadis. Bahr al-Madzi merupakan ringkasan dan ulasan atas kumpulan hadis Sunan At-Tirmizi yang dibuat dalam lima jilid. Dalam iklan Al-Babi Al-Halabi, buku ini dijual dengan harga 150 Mulim (sen). Idris Al-Marbawi juga menterjemahkan kitab Bulughul Maram karya hadis fikih yang disusun tokoh hadith tersohor Ibnu Hajar Al-Asqalany. Kamus Al-Marbawi sendiri yang terdiri dari dua jilid dengan sekitar 816 halaman dijual 50 Mulim.

Dalam bidang tafsir, Al-Marbawi menulis Tafsir Surah Yasin yang diiklankan dengan harga 40 Mulim. Ia juga menulis Tafsir al-Quran Nurul Yakin, terjemah Tafsir Fath al-Qadir, Tafsir Juz Amma, Tafsir Al-Fatihah, dan ilmu Al-Quran dengan judul Al-Quran Bergantung Makna. Atas sumbangan dan jasanya yang besar dalam bidang keagamaan dan persuratan, maka pada tanggal 5 Juli 1980, atas usaha Prof. Dato' Dr Haron Din, muridnya, Idris Al-Marbawi mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada 1 Muharram 1408H atau 28 Agustus 1987 ia dinobatkan sebagai tokoh Ma'al Hijrah Malaysia yang pertama.

Dunia Islam kemudian bersedih, karena pada tanggal 13 Oktober 1989 bersamaan 13 Rabiul Awal 1409 Hijrah, Syaikh Muhammad Idris bin Abdur Rauf Al-Marbawi berpulang ke Rahmatullah dalam usia 96 tahun. Ia wafat di RS Pusat Ipoh dan dimakamkan di Kampung Lubuk Merbau, Perak, Malaysia, bersebelahan dengan pusara isterinya, Khadijah binti Mohamad Idham yang wafat 14 bulan sebelumnya. Ia juga masih meninggalkan seorang istri yang tetap tinggal di Mesir, Hajjah Munirah binti Abdul Wahab.
Untuk mengenangnya, nama Al-Marbawi diabadikan untuk lembaga pendidikan Kolej Idris Al-Marbawi dan Sekolah Kebangsaan Syeikh Mohammad Idris Al-Marbawi.

Arab Jawa

Semangat Al-Marbawi menuliskan karya kamusnya dalam aksara Arab-Jawi itu kemudian diikuti oleh KH Mustamir Al-Hajawi yang wafat tahun 1961. Namun kamus ini baru diterbitkan tahun 1966 oleh Penerbit Menara Kudus dengan pengantar KH Bisri Mustofa ayah Gus Mus (KH Mustofa Bisri). Karya Arab Melayu masih diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Madura. Namun, tak ada lagi karya dalam bahasa Indonesia. Sementara di Malaysia karya Arab-Melayu tetap berkembang dan menjadi kebanggaan tersendiri. (Musthafa Helmy)




Baca Juga:

Nasional 7280685487431548152

Poskan Komentar

emo-but-icon

Video Berita Haji

Populer

Terbaru

Iklan

item